Sebuah Perenungan

Kalo gue sih, insyaAllah ya, ngga pengen jadi bapak bapak yang pake baju rapih, rambut klimis, naik camry atau alphard dengan supir berseragam trus berenti depan lobby gedung, naik lift VIP dengan jadwal meeting seabrek abrek.
i’m a simple man, gue pengen jadi tua di sebuah rumah megah ditengah tengah peternakan dan perkebunan milik sendiri dengan ragam macam binatang termasuk serigala, harimau, kuda nil, you name it lah, dari yang langka sampai yang bermanfaat bagi ummat, rambut gondrong berkaus oblong, jalanin hidup dengan berkuda, memancing di danau buatan samping rumah, ngobrol seputar hidup dan tauhid sama anak cucu, lepas dari semua penat nya dokumen dan taik kucing meeting-meeting ngga penting. Berhenti jadi manusia bertopeng yang harus selalu muasin pemilik modal 24/7, bisa jalani hidup dengan cara gue sendiri dan menjadi bermanfaat buat orang-orang terdekat.
“I want to be rich, dead rich! so i can live my life in my terms, because that’s the point of being alive, aint it?”

Kita Tidak Akan Pernah Tahu

Beberapa bulan lalu, waktu sepeda masih menjadi sebuah kendaraan roda dua biasa-biasa saja yang hanya diminati oleh bocah-bocah cilik, gue bersama dengan anak tertua gue pernah mendatangi sebuah bengkel sepeda dekat rumah untuk betulin ban, bengkel sepeda itu standar seperti bengkel pada umumnya, banyak sepeda secondhand berjejer di depan bengkel dan beberapa sepeda baru yang sudah mulai usang di dalam bengkel yang remang-remang kurang pencahayaan, dalam hati gue membatin,
“Ya Allah, ini orang gimana balik modalnya? gimana bertahannya? sementara sekarang siapa sih yang masih getol main sepeda? yah, sekalipun ada paling cuma beberapa dan ga jauh di bintaro sana ada rodalink, ada specialized…”
Dalam lamunan dan pertanyaan-pertanyaan itu gue bersyukur atas keadaan gua.
Lalu muncullah pandemic di bulan Maret, beberapa kali lewat bengkel itu sempet tutup, mungkin karena protokol, tapi semalem, semalem bengkel itu terang, rame sama orang-orang, sudah setengah sepuluh malam, dia masih buka dan melayani, tidak seperti 4 bulan lalu, sungguh disitu gua yang cuma lewat kepikiran,
“MasyaAllah, emang rezeki ga ada yang tahu, siapa sangka sekarang sepeda jadi trend gila-gilaan ga yang kaya, miskin, maupun menengah, semua pake sepeda, dan yang lebih gilanya lagi, sparepart yang 4 bulan lalu cuma 200ribuan, sekarang bisa sampe 500 ribu, makan cuan kali yah para pemilik bengkel sepeda”
Begitulah Allah selalu sebarkan hikmah ditengah musibah, siapa sangka, dari pandemi ini justru ada aja sumber-sumber rezeki baru yang ngga disangka-sangka…

Harus Bisa Semua

Di luar negeri ada profesi yang masing-masing punya gaji sendiri-sendiri yaitu:
  • UI Designer,
  • Graphic Designer,
  • Motion Designer,
  • Video Editor,
  • Product Designer,
  • Visualizer,
  • 3D Artist,
  • Illustrator,
  • yeah you f***ing name it!

Di Jakarta. Perusahan meng-interview seorang kandidat dengan syarat bisa: semua hal diatas!, software nya? beli sendiri (“soalnya kita bukan perusahaan yang berbasis desain Mas-HRD every f***ing company), gaji buat satu profesi, dan laptop windows second hand warisan pegawai sebelumnya dari divisi admin finance, yang kesehariannya cuma buka excel sama word, itu aja sering error, harapan perusahaan? “Coba bikinin motion kayak gini deh” *sambil nunjukkin video toy story 1* “deadline nanti sore bisa yah? soalnya besok pagi mau dipake presentasi sama BOD”…

Tagged , , , , ,

Graphic Designer – Sebuah Profesi

“Kan cuma gambar doang”

“Yaudah, ambil aja dari google lah”

“Ini kok pecah ya gambarnya? bisa tolong diedit ngga biar ngga pecah?” *disaat gambar yang dikasih adalah thumbnail image 25X25 pixel dengan resolusi 72 Dpi dan pengen dijadiin image buat backdrop dengan ukuran 4X4 meter…well…i don’t know, langsung ngerasa beloon banget, 10 tahun nge-design tapi ngga bisa ngerubah image 25X25 pixel jadi ngga pecah di backdrop 4X4 meter*

Dan masih banyak lagi celetukan-celetukan soal design yang cukup menyakitkan dan menyinggung, semuanya adalah karena ketidak-mengertian beberapa orang terhadap profesi ini, yak betul profesi! nge-design yang menurut kalian (yang tidak mengerti) “asik”, “cuma gambar-gambar doang”, “cuma gitu doang” itu sebenernya profesi loh! serius deh, ada diluar sana cukup banyak orang yang hidup dan menghidupi keluarganya dengan melakukan perbuatan yang jarang sekali kalian hargai ini.

Dan sebagai informasi, seorang desainer grafis itu ngga “cuma” ngegambar doang loh, ada proses yang namanya brainstorming, sketching, mind mapping, sebuah proses cukup panjang dan menyita pikiran tentang bagaimana sebuah gambar itu bisa berkomunikasi dengan baik, tentang bagaimana sebuah gambar itu dapat dimaknai dan diartikan dari tiap-tiap garis dan bentuknya supaya menjadi satu kesatuan identitas yang utuh. Yang lebih hebatnya lagi, kami ini ngga cuma gambar-gambar doang, kami membuatnya dengan perhitungan dan presisi, biasanya kami gunakan golden ratio (rumus fibonacci).

Gue pernah mendengar seorang CEO berkata kepada Head Marketing-nya “yaudahlah, kan cuma gambar doang”, serius itu sangat menyakitkan dan sama sekali ngga relevan dengan kenyataan, kenapa? karena CEO itu memimpin sebuah perusahaan retail yang notabene-nya, butuh banget banyak material design, dari mulai flyer, poster, brosur, website, social media, gimmick, banner, baliho, dan sebaginya dan sebagainya, trus dia dengan entengnya, sombongnya, dan ketidak mengertiannya berani bilang “kan cuma gambar doang” dia ga sadar kalo team sales-nya setiap hari jerit-jerit minta design flyer, minta design poster, minta design gimmick, buat apa? buat alat jualan! karena sejago-jagonya sales nge-bacot, ngga akan bisa jualan tanpa “senjata” dan “senjata” satu-satunya bagi seorang sales adalah DESIGN! kebayang ngga? ada sales jago banget bacot, product knowledge khatam, rapih, necis, good looking banget, tapi jualannya pake selebaran bikin di word pake comic sans dan gambar item putih nyolong di google yang di transform tanpa shift, so meletat meletot deh tuh gambarnya, gue yakin, se yakin-yakinnya, semua penampilan dia diatas itu ngga bakal ngaruh sama sekali, karena apa? karena orang tuh males interaksi sama sales, orang kebanyakan pengennya “ada brosurnya ga mas? coba saya liat liat dulu”.

So, buat CEO, Head Marketing, atau siapapun elo, kalo masih ngejalanin bisnis yang tujuan utamanya buat bikin semua orang / kalangan beli produk elo, please, jangan remehin orang design, karena lo bukan cuma butuh orang design, tapi lo terikat dengan mereka, tanpa orang design, yang “ngedandanin” material jualan lo, bisnis lo sama aja kayak mahasiswa di lampu merah yang minta sumbangan pake box indomie.

Tagged , , , , , , , , , , ,

Do You Really Hate It?

“i hate monday”

sebuah term populer yang sempat jadi momok di beberapa negara, namun benarkah kamu “membenci hari senin?” bukannya target berlebihan yang di tentukan bos mu? bukannya mulut dan kelakuan bos mu yang kamu benci? atau manajemen perusahaan yang berantakan? atau bonus yang tak kunjung turun? atau lalu lintas jalanan yang ngehek banget? (ga usah nunggu senin kalo lalu lintas mah) nampak nya senin cm jadi bemper, bantalan, dan kedok aja krn sesungguhnya yang kamu benci itu rutinitas kantoran yang memuakkan, segala topeng dan senyum palsu rekan sekerja, hedonisme tak perlu, dan perintah perintah mendadak yang selalu datang dekat dekat jam pulang, belum lagi segala kreditan mencekik yang bikin kamu mau ngga mau yaudahlah yah kerja daripada “miskin”, ke-tidak-sanggupan hidup bersahaja dalam selimut kesederhanaan, ke-tidak-sanggupan mendengar gunjing dari orang orang dekat perihal kamu yang ga punya ini itu…padahal kalau di pikir pikir pendapatanmu tidak lebih besar daripada tukang bubur ayam yang punya “jam kerja” lebih sedikit. Ironis.

Sedih tapi Benar.

Teman

Pernah ada temen yang bilang.
“Tambah tua pasti temen lo tambah dikit, coba aja deh buktiin”

Well…nampaknya baru kemarin itu terucap dari mulut temen gue, ternyata sekarang, di kepala 3 ini, gue buktiin, kalo memang benar adanya hal tersebut
.
Well, let’s break it down a lil’ bit.

Dulu waktu muda, gue main sama siapa aja, gua ga pandang bulu: pemadat, pemulung, anak jendral, semua gue temenin, ga ada harapan apa-apa, ga ada kuatir apa-apa, main sama anak orang miskin, ya gue prihatin sm keadaannya cm yaudah cuek, main sama anak orang kaya, ya gue amazed sama keadaannya cm yaudah cuek. Trus berjalan seperti itu sampe lulus kuliah dan mulai lah masuk ke “dunia nyata” apalagi setelah menikah dan punya anak, which is itu pertanda awal gue menjadi tua.

Memang awalnya gue mencoba meyakinkan diri kalo ga akan ada apa-apa lah, semua bakalan berjalan fine aja seperti layaknya waktu muda gue dulu, cuma ternyata ngga bisa, well, a little example aja: waktu gue dan anak-anak beserta istri gue main ke salah seorang temen yang keadaan finansial nya jauh diatas gue, gue fine, fine banget, ibarat kata mah “yaelah gue tau lo dari dulu bro!” tapi ternyata mulai muncul hal-hal yang ga bisa gue sangka, dari mulai ajakan ringan kayak “bro kita liburan bareng dong kapan-kapan, sekeluarga, nginep gitu, booking hotel mana kek” spontan gue jawab “hayuk aja!”

*lalu fast forward ke dalam mobil dalam perjalanan pulang*

istri : tadi diajak jalan-jalan nginep di hotel kapan?
gue: ngga tau deh, nanti dikabarin katanya
istri: emang ada uangnya? bayar cicilan “anu” aja udah berapa, trus belom susu, popok, blablabla
sampai suara istri gue pelan-pelan menjadi fade out, gue pun tenggelam dalam lamunan, seperti tersadarkan dari mimpi, gue bergumam dalam mirisnya hati,
“oiya…ya…gaji gue kan cuma segini, gimana caranya gue ajak anak2 sama istri gue liburan bareng sama si bro, sementara duitnya dia banyak, masa gue minta bayarin…yah kalo gue doang mah gpp, anak2 sama istri gue?”

dan berawal dari situ…hilang satu teman…bukan hilang yah sebenernya, cuma karena “kelas” kita udah beda aja, jadi ga mungkin gue bisa ngimbangin idupnya temen gue ini yang sekarang udah jadi kelas atas, sementara gue masih jadi kelas menengah…guenya kebanting, dan kasian anak-anak sama istri gue. Akhirnya, tanpa harus ngejauh pun, jadi jauh sendiri, si bro ini tetap berada dalam lingkaran kelas atasnya bersama dengan teman-temannya yang baru (yang tentu saja kelas atas juga) dan gue, yah…kerja…terus kerja…pergi pagi pulang malem cuma biar anak-anak bisa makan enak, supaya istri bisa tenang waktu ke pasar atau ke alfamart ga ketakutan duitnya kurang. Disyukuri aja, kalo bahasanya orang tua dulu mah. Lah emang siapa juga yang ngga bersyukur.

ini tentu saja bukan masalah bersyukur atau ngga bersyukur, cuma kadang yang suka bikin gue sedih adalah, bukan cuma satu kali kejadian seperti ini terjadi, dalam arti, gini, beberapa kali gue mencoba ngajak keluarga kecil gue untuk gabung sama temen-temen dari jaman dulu yang ternyata sekarang keadaan finansialnya udah jauuuh banget diatas gue, secara otomatis, terjauhkan, karena yah, obrolannya udah beda, mereka ngomongin pembantu, pengasuh, sekolah puluhan juta, sementara gue? duit bisa bertahan sampai akhir bulan aja udah Alhamdulillah banget, so, gue planga plongo aja gitu, kalo dengerin temen-temen borjuis ini ngomongin hal-hal (yang menurut gue) mewah. Alhasil selain guenya minder, mungkin merekanya juga ngerasa “ah si eru, manggut2 aja nih, ngerti ga sih dia?”.

Pada akhirnya, yah, gue aminkan dan buktikan, bahwa apa yang di bilang sama temen gue dulu itu memang betulan, bahwa “semakin tua, temen lo semakin sedikit” yang ngga gue abis pikir adalah…ternyata begitu caranya menjadi sedikit.

Only Tauhid Can Save Us

You know, you think you made changes by criticizing the government because the dollar rose, prices went up, etc., which you don’t understand is that there is a greater power out there that controls it all, let’s say, those dragon mafia and rothschild, so If you think this country is controlled by indigenous people, Javanese people, or Indonesian native people, it means that your way of thinking is far behind and it seems you really don’t understand how the world exactly runs. and no matter who wins in the election, be it soldiers, furniture makers, even scholars, they will still submit to the forces that are greater than them, greedy rulers and devil worshipers. Believe me, because only tauhid can help us.

Dholalah

Siang itu, loket di stasiun Sudimara, Jombang begitu padat, antrean panjang menjadi pemandangan indah di teriknya matahari.
Saya tidak ingin kemana mana, hanya saja ada dua tiket THB yang rasanya sayang kalau di biarkan saja hangus di dompet (secara 1 tiket nya bisa di refund 10 ribu, lumayan kan 2 tiket dapat 20 ribu, bisa beli nasi padang).
Saya pun ikut mengantri dengan santai di loket 5. Stasiun sudimara memiliki 2 loket sebenarnya, namun siang ini hanya 1 loket yang dibuka sementara loket satunya ditutup.

Tidak lama saya mengantri ada seorang laki laki berbaju merah (LBM) yang nampak kebingungan, setelah celingak celinguk beberapa saat diapun melihat ke pemuda berbaju hijau (PBH) di depan saya, lalu dia mulai bertanya
LBM : mas, kalo mau nukar tiket (refund) dimana ya?
PBH : ooh disini nih mas (sambil menunjuk ke arah loket yang tutup)
LBM : disini ya bisa ya? (Sambil menunjuk ke arah loket yang tutup) 
PBH : iya mas!

Lalu si laki laki berbaju merah ini pun maju ke depan loket yang tutup, tanpa curiga sedikit pun dia berdiri disana, sesekali memanggil manggil petugas yang nampak sedang sibuk melayani pembelian tiket, tentu saja petugas tidak terlalu mengindahkan panggilan laki laki berbaju merah ini karena petugasnya pun sedang sibuk.

Setelah cukup lama berdiri dan memanggil tanpa ada respon, laki laki berbaju merah ini pun mulai gelisah, sampai akhirnya ada seorang petugas lain yang masuk ke ruangan loket lalu memberitahukan kepada laki laki berbaju merah bahwa loket dimana dia berdiri itu tutup dan untuk menukarkan kartu dia harus antri di loket sebelahnya (tempat saya dan pria berbaju hijau mengantri). Sambil cengar cengir tengsin laki laki berbaju merah pun mundur dan masuk ke antrean paling belakang.

Saya lalu berfikir, beginilah bahayanya berita palsu. Ketika seseorang menerima berita palsu lalu si penerima berita melaksanakan 100% apa yang di sampaikan kepadanya, maka akan sia sia lah apa yang dia lakukan, meskipun apa yang dia lakukan sudah sesuai dengan prosedur, ya kan? Laki laki berbaju merah ini sudah menjalankan apa yang di beritahukan oleh pria berbaju hijau, yaitu mengantri di loket sebelah ( loket yang tutup) dan membawa tiket THB untuk di refund, namun apa yang dia tidak tahu adalah bahwa dia mengantri di loket yang tutup! Maka apa yang sudah dia lakukan (meskipun sesuai dengan prosedur) akan menjadi sia sia.

Apakah kalian menangkap leluconnya?
Ini baru salah ngasih tahu loket, loh, apakah terbayang oleh kita kalau berita palsu yang disampaikan itu berkaitan dengan syariat? Tuntunan beribadah? Atau hal hal yang berkaitan dengan hukum halal haram? Naudzubillahimindzalik.
Sementara yang menyampaikan kabar palsu itu diam, padahal dia tahu apa yang disampaikannya adalah sebuah kesalahan, dan yang menerima kabar terus terusan berada di dalam kepalsuan, akhirnya apa? Dia tersesat!, karena melakukan sesuatu yang sia sia.

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

the techpocalypse

sometimes i wonder, what if the techpocalypse (not the game) happens soon? what if it really hapens? and we’re forced to live our life just exactly like our ancestors, with bow and arrow and sword and farming and you have to ride a horse to go to indomaret or alfamart and you can see children playing outside, people talk to each other for real, i mean they really talk, yeah, they look into each others eyes and do the…talking…instead of looking down to a bright screen and play with their thumb, well…i think it’s kinda cool, right?

Tagged , , , ,