Category Archives: edukasi

Ada kalanya, satu reaksi, buat segalanya jadi berarti

“Ada kalanya satu reaksi, buat segalanya jadi berarti”

sebuah punch line dari TVC campaign-nya A mild yang baru, dan (buat saya) itu apik sekali.

Ini sih analisa subjektif aja yah, sekali lagi ini subjektif aja yah.

Saya lupa tepatnya kapan pertama kali saya melihat iklan ini, yang pasti alur dalam cerita iklan ini cukup jelas saya tangkap, seorang anak muda urakan, dengan tatanan rambut agak keriting tak terawat, dandanan seadanya (cenderung agak dekil) dengan style everlasting (style casual nyaman tanpa celana mengkerecet atau baju-baju hebring ala pria-pria hipster masa kini ibukota Jakarta) yang kurang lebihnya dapat dikategorikan ke dalam “anak design” atau “seniman” mungkin lebih tepatnya, di iklan ini diperlihatkan telah selesai membuat sesuatu dalam sebuah frame (umunya yang ada di frame itu yah lukisan atau foto, tapi entah juga mungkin kalo tab di masukkan ke dalam frame jadi kita bisa nonton film di dalam frame kan, tapi saya akan lebih senang menganalogikan, kalau yang berada dalam frame itu adalah GAMBAR), lalu dengan lucunya si pemuda diperlihatkan berkeliling kota, atau bisa di katakan berkeliling dunia untuk memperlihatkan kepada orang-orang mengenai isi dalam frame tersebut, ada beberapa scene lucu yang saya lihat dalam TVC ini, ada kalanya si pemuda urakan tampak memperlihatkan frame kepada turis di sebuah air terjun, dan mereka geleng-geleng, mungkin sebagai penanda mereka tidak tertarik, lalu ada kalanya si pemuda juga memperlihatkan isi dalam frame kepada para pekerja kontraktor dan mereka juga memperlihatkan tanda-tanda tidak tertarik, dengan menggelengkan kepala mereka, bahkan ketika si pemuda urakan memperlihatkan gambar kepada seekor illama, illama itu pun buang muka, namun si pemuda urakan terus berjalan dan berkeliling entah menawarkan atau sekedar memperlihatkan kepada orang-orang tentang isi di dalam frame yang dia bawa, hingga si pemuda urakan tiba di sebuah kota yang kalau saya lihat dari tatanan bangunan dan lingkungannya kota ini agak mirip italia atau paris kali yah, yah pokoknya antara itu deh, di kota ini si pemuda urakan memperlihatkan frame kepada seorang wanita yang sedang duduk di dalam restoran, namun si wanita lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai penanda menolak atau tidak tertarik, di sini lah si pemuda tertunduk layu sambil berjalan gontai ketika ada seorang wanita lain yang juga dari dalam restoran tampak keluar mengejar si pemuda lalu meminta si pemuda memperlihatkan frame kepadanya, ekspresi yang di buat si wanita memberikan pertanda kalau si wanita tampak tertarik dan mereka berdua pun tersenyum, lalu scene berganti dengan latar jalan raya di sebuah gurun dengan si pemuda urakan berjalan di sisi bahu jalan dan ketika ada sebuah mobil yang dengan jelas terihat ada dua orang wanita di dalamnya melintas, si pemuda urakan mengangkat frame memperlihatkannya ke arah dua orang wanita di dalam mobil yang sedang melintas tersebut, kedua wanita mengangkat tangannya menandakan seperti mereka peduli dan menunjukkan ekspresi kegembiraan, kamera zoom in ke wajah si pemuda urakan yang menampakkan ekspresi kepuasan lalu VO dengan copy write

“ada kalanya satu reaksi buat segalanya jadi berarti”

nah, abis deh TVC nya, mungkin untuk sebagian orang akan berfikir
“ih apaan sih nih iklan? Ngga jelas!”
atau sebagian lagi mungkin akan menilai
“wuih gila a mild buat iklan rokok aja sampe pake bule trus kayaknya keliling dunia tuh! Itu kan air terjunnya niagara falls, trus itu kan restoran kayak gitu ga ada tuh di Indonesia blablabla”
atau juga yang akan langsung mengganti saluran televisinya sambil mengeluh “ah elah lama banget sih iklannya”
tapi buat saya, ini iklan adalah sebuah cerminan, adalah sebuah keadaan yang saya sendiri pun (berdasarkan analisa subjektif saya yah tentunya) merasakan betul apa yang si pemuda urakan di atas rasakan. Kalau saya memposisikan diri saya sebagai si pemuda urakan maka akan saya dapati sebuah alur dimana :
saya, sebagai seorang self taught graphic designer (desain grafis yang belajar sendiri) atau dengan kata lain anak desain tanpa sejarah kepemilikan ijasah DKV dan tentunya embel-embel sarjana seni, yang baru saja selesai membuat sebuah karya kecil-kecilan (biasanya karya kecil-kecilan ini adalah sebuah tracing vector painting atau tracing digital painting atau hanya sekedar typhography yang memang langganan saya buat sebagai sarana untuk memperdalam ilmu desain saya, mengembangkanya, mengasah insting, dan tentunya sebagai sarana untuk promosi supaya bisa dapat kerjaan sampingan) kecenderungannya karya itu akan saya promosikan lewat website-website online portfolio, atau website-website populer lainnya, seperti deviantart.com, tumblr.com, behance.net, atau website-website blogging seperti wordpress dan blogspot, dan belakangan juga saya banyak mempromosikan karya-karya saya lewat instgram, nah setelah karya-karya saya masuk ke dalam web-web diatas, itulah saat dimana saya menunggu dengan penuh pertanyaan, menanti, dan mulai ketar-ketir, apakah orang-orang akan ada yang menghargai karya saya? Sekedar nge-reblog, nge-like, atau syukur-syukur comment positif soal karya yang sudah sya masukkan itu, dari sini apa kalian menangkap korelasinya?
Kegiatan saya yang meng-upload itu kan judulnya di website yah, di www (world wide web) yang notabene akan dapat dilihat oleh orang banyak, di seluruh belahan dunia, dengan catatan si orang itu punya akses internet, nah itu di gambarkan sangat jelas di dalam iklan a mild, dengan si pemuda yang berkeliling dunia memperlihatkan frame (atau isinya) ke orang-orang di seluruh dunia (sebenernya ini gue ngga bisa bilang seluruh dunia yah, cuma kan dari setting latarnya yang berubah-ubah kita bisa lihat kalau memang beda-beda, ada gurun pasir, ada bangunan tua khas Eropa, ada air terjun niagara, ada kontainer-kontainer di pelabuhan, dsb)

Saya rasa itulah cerminan yang berusaha di buat A mild dalam campaign TVC mereka yang baru itu, bagaimana kita (karena saya yakin, yang melakukan hal seperti saya di atas bukan cuma saya) baik sebagai desainer yang belajar sendiri ataupun desainer yang memiliki ijasah, sebagian besar pasti pernah berada dalam posisi si pemuda urakan, posisi dimana kita sudah membuat dengan serius sebuah karya sebagai “amunisi” yang kita buat untuk masuk lebih dalam ke industri kreatif ini.
Jadi kalau boleh saya gambarkan secara harafiah dan sempit menurut subjektifnya saya mungkin begini yah, si pemuda urakan adalah seorang seniman grafis yang baru saja menyelesaikan sebuah karya yang (menurut dia, apik) tentunya kalau dalam kehidupan nyata kita tidak mungkin juga kan bawa-bawa hasil cetakan keliling dunia cuma buat nanya ke orang-orang “pak menurut bapak ini gimana?”, jadi scene dimana si pemuda urakan keliling dunia untuk memperlihatkan karyanya ke orang-orang itu mungkin realistisnya adalah kita yang meng-upload karya kita ke deviantart, behance, tumblr, blog, fb, instagram, dsb yang memang secara tersirat kita ingin orang-orang melihat, mengapresiasi, atau syukur-syukur ada yang mau bayarin karya kita itu ya, ngga?

Luar biasa memang, keterbatasan yang di ciptakan undang-undang pariwara di negeri ini, membuat para pekerja kreatifnya bener-bener berfikir luar biasa untuk bisa membuat sebuah TVC kampanye periklanan, dan memang kok, rokok a mild itu lekat sekali hubungannya sama anak-anak muda yang berjiwa bebas, kurang lebih anti mainstream, penuh dengan terobosan, ngga suka diatur-atur, sedikit rebel, dan lain lain.

Sekian dari saya, udah mau jam 12 malem, sebatang dulu terus tidur…

Tagged , , , , , ,

Hidup-Mati Sebuah Brand

Brand, atau biasa kita panggil dengan sebutan “merek” atau “merk” tidak pernah lepas dari kehidupan manusia, manusia modern lebih pastinya. Seluruh badan kita hampir semuanya adalah merek, setiap hari kita menjadi alat promosi bagi brand yang kita pakai. Benarkah? Tentu saja, coba saja kamu berkaca pada dirimu, sering sekali kita melihat kawan kita yang pakaiannya bagus, mentereng, trendy, dan funky kan? Dan pasti sering juga diantara kita yang tanpa segan bertanya tentang salah satu, salah dua, ataupun seluruh pakaian yang dia kenakan
Si A : sobh, sepatu lu keren deh, beli dimana sobh?
Si B : oh ini, gue beli di ZARA sobh
Si A : ooh…keren…keren
Kurang lebih contohnya seperti itu, Si B tinggal sebut saja merek dagangnya, langsung kita tahu, dan seketika itu tertanam di kepala kita “kalo mau beli sepatu toko pertama yang bakal gue satronin ya ZARA”, paling tidak begitu dalam kasus gue, suatu ketika pernah gue beli sepatu yang menurut beberapa temen gue bagus, dari beberapa orang ini lalu ada satu yang bener-bener jatuh hati sama sepatu gue dan laju lah dia menuju toko tempat gue beli itu sepatu. Begitulah kurang lebih peran brand dalam kehidupan manusia, kebanyakan dari kita mungkin tak sadar akan hal ini, namun ini benar terjadi. Merek dagang berfungsi sebagai alat, untuk semua, yah paling tidak, hampir semua, untuk menunjukkan diri, untuk menjadi bagian dari satu kelompok, atau hanya sekedar hobi dan yang paling sering adalah pamer-pamer.
Dulu waktu belajar tentang teori-teori periklanan, beberapa hal yang gue inget salah satunya adalah tingkat-tingkat brand, dimana di situ ada tahap pengenalan, lalu ada tahap pengukuhan, dan terakhir ada tahap pendewasaan, tahap yang paling susah adalah tentu saja tahap pengenalan, di sini lah sebuah Brand harus benar-benar mati-matian menjaga image dan kualitasya untuk bisa “dianggap” oleh masyarakat, terutama adalah target marketnya si brand itu sendiri, di sinilah perusahaan “membuang” bermiliar-miliar untuk sewa segala macam agensi kreatif hingga ahli PR dan marketing communication untuk mengkampanyekan brand mereka supaya masyarakat mau menjadi pelanggan tetap brandnya tersebut. Lalu yang kedua ada pula tahap pengukuhan, dimana dalam tahap ini ya si Brand tadi itu sudah cukup di kenal lah, perusahaan mulai bisa menghemat sedikit budget pada komunikasi pemasaran, namun disini lah hal paling berat, di mana perusahaan harus mengoptimalkan operasional dan kualitas, ibaratnya ya, kalo menurut gue nih, tahap ini ya tahap paling ringkih lah, sedikit aja ada yang cacat, ya baik itu dari pelayanan teknis dan sistem nya, manajemennya, atau pelayanan konsumennya, pasti cepet ancur deh tuh perusahaan, gue menemukan analisa di salah satu provider internet di Indonesia, sebut saja “teman pintar” provider ini iklannya begitu apik, manggugah selera dan mantap, sehingga gue terbuai untuk menggunakan jasa provider ini, selain daripada iklan yang luar biasa ternyata penggunaannya juga sangat mudah, tinggal colok dongle nya ke laptop atau PC lalu tekan konek dan kita bisa internetan (awalnya sih gitu), beberapa bulan awal gue pake ini si “teman pintar” gue masih menemukan lemot-lemot wajar, gue masiih menikmati menggunakan layanan internetnya, namun setelah semakin lama, ke-lemot-annya semakin tak terbendung, semakin menggila, bagaimana tidak? Gue nyalain modemnya, lalu gue buka www.yahoo.com trus gue tinggal ganti baju, minum, dan makan, pas gue balik ke laptop gue, apa yang terjadi? Layar google chrome gue masih blank dan indikasi loading nya masih muter-muter ga karuan. Otomatis simpulan gue terhadap si “teman pintar” ini apa? Mereka GAGAL! Okelah mereka berhasil dalam tahap pengenalan, mereka bikin komunikasi marketing yang yahud banget, oke punya, gokil se gokil gokil nya, namun ketika penggunanya sudah banyak dan rame, apa yang terjadi? Mereka tidak bisa mempertahankan kualitas itu, dan yang bikin gue tambah kecewa adalah apa? Mereka menggunakan slogan “i hate slow” hampir di semua kampanye mereka, tentu saja bukan slogan “i hate slow” yang di bubuhi tanda bintang yang di bawahnya di tulisi “syarat dan ketentuan berlaku : kecepatan maksimal hanya di dapat kalau anda isi paket yang sejuta ya, kalo cuma dua ratus ribu ya jangan harap”, padahal gue ingat betul bahwa iklan itu hanya boleh mendramatisir tapi tidak boleh bohong.
Dan tahap ketiga adalah tahap pendewasaan, di sini lah tahap yang susah-susah gampang, tetep sih intinya di menjaga kualitas itu tadi, karena di tahap ini biasanya si brand sudah mencapai top of mind targetnya, disini biasanya brand itu sudah dianggap melekat pada diri si penggunanya, lihat saja aqua, terlalu kuat brain storm produk ini sehingga penggunaan majas metonimia atas brand ini hampir selalu terjadi
Si A : mas pesen nasi goreng
Si B : minumnya apa?
Si A : aqua aja mas, dingin
*si B datang dengan membawa ades*
mindset orang-orang sudah kuat dan kental sekali bahwa air mineral itu ya aqua, walaupun yang mereka jual adalah produk merek dagang yang lain, ini pernah terjadi sama gue dulu waktu di kampus, suatu siang gue dateng ke warung langganan gue dengan maksud mau makan, ketika di tanya minumnya apa, gue sontak jawab aqua dingin ya, trus si mas-mas nya malah bawain ades atau apa gitu, gue sampe protes, ini kan bukan aqua mas, saya kan minta aqua, dan konyolnya dia bersikeras, dengan bilang “lah kan isinya sama-sama air putih” gue pun ga mau kalah dengan bilang “iya tapi kan gue pesen aqua bukan pesen AIR MINERAL” cuma karena si mas-mas keras kepala ini bilang dia ga nyetok aqua dan gue udah sangat haus jadilah gue tetep ambil itu air mineral merek lain. Dari situ kita tentu melihat bagaimana sebuah brand menjadi unggulan bagi masyarakat, sampai-sampai kebanyakan dari kita enggan untuk menyebutkan “air mineral” ketika sedang makan di warung tenda, kebanyakan dari kita menyebutkan langsung secara gamblang “aqua”.
Nah lebih dalam lagi tentang brand ini adalah gue ingin membahas nasib sebuah brand ketika brand itu sudah melewati tahap pendewasaan, beberapa ada yang mati mengenaskan, beberapa lagi ada yang menjadi sebuah culture, sebuah pencirian atas suatu golongan tertentu, dan beberapa lagi ada yang mengulangnya dari awal dengan re-brand-ing pembaharuan logo dan sebagainya.
 
________________________________________________________________________
 
Di atas gue sudah menceritakan tentang perjalanan sebuah brand hingga menjadi di kenal luas di masyarakat, nah sampe tahap mana tuh tadi? Pendewasaan yah? Nah ketika sebuah brand sudah mencapai kepada tahap pendewasaan, brand tersebut akan menjadi dikenal sangat luas oleh masyarakat bahkan tidak menutup kemungkinan brand tersebut akan menjadi icon, menjadi sebuah kata ganti untuk menjelaskan sebuah benda, seperti tadi misalnya, orang-orang menyebut air mineral dengan “aqua” padahal aqua bukanlah satu-satunya brand yang menjual air mineral dalam kemasan.
Ada satu hal yang menarik gue, suatu ketika dulu kampanye teh botol sosro pernah menyebutkan bahwa “apapun makanannya, minumnya teh botol sosro” ini kampanye yang sangat berhasil, setiap gue makan di warung-warung tenda selalu gue perhatiin banyak orang yang minumnya teh botol sosro, namun siapa nyana, siapa nyangka, sekarang, dengan berhentinya kampanye itu, dan muncul teh yang baru dengan rasa yang jujur saja lebih enak, teh botol sosro pelan-pelan di tinggalkan, perlahan brand itu menjadi “tidak terlalu populer” di kalangan masyarakat.
Memang yah untuk mempertahankan kehidupan sebuah brand di perlukan keyakinan dan pengendalian atas kualitas yang cukup, karena pada akhirnya masyarakat tidak akan lagi terbuai oleh iklan-iklan yang dibuat para agensi-agensi canggih itu, pada akhirnya nilai plus dari suatu produk adalah kualitas dari produknya itu sendiri, coba lihat converse all star, sepatu ini awal pertama kalinya dipakai main basket loh, tapi sekarang? Anak kecil orang biasa sampe musisi ternama dunia make ini sepatu, bahkan film-film hollywood box office yang menggunakan pemeran remaja rata-rata pasti wardrobe nya converse all star, padahal yah, sepatu ini tidak terlalu menambah kualitas kalo gue bilang, kenapa? Sekarang ini sepatu kan awal mulanya buat basket, so pasti ini sepatu emang di design kuat kan, pasti dong. Dengan bahan kanvas sepatu ini sesungguhnya cenderung bikin kaki “gerah” kalau di gunakan, bikin kaki agak sakit kalo digunakan sering-sering, namun, citra yang melekat sama converse ini yang membuat orang-orang enggan dan cenderung tidak akan meninggalkan sepatu ini, tentu saja di awali dari design sepatu yang sederhana dan ever lasting, dan keinginan secara sukarela para pesohor-pesohor legendaris untuk menjadikan sepatu ini sepatu favoritnya.
Menilik dari situ, gue melihat bahwa ini adalah suatu penambahan, maksudnya bukan lagi brand mencapai tahap pendewasaan diri yah, tapi disini brand sudah menjadi sebuah budaya, sebuah mitos di kalangan masyarakat, bicara converse tidak akan lepas dari era, era hitam putih, era hippies, era grunge, post rock, alternative, rock, era dugem sampai era dimana iphone dan samsung saling bertarung untuk menjadi produsen telepon-genggam-layar-sentuh yang paling pintar, sampai-sampai ada beberapa golongan yang mengindikasikan legenda ke dalam brand converse itu sendiri, seperti kalau lo pake sepatu converse item tinggi yang belel kadang-kadang kan suka dibilanginn gini “wuih cobain banget lo” dan masih banyak lagi hal yang lainnya.
Ini adalah tentunya impian bagi semua brand, dimana seluruh dunia beriklan untuk brand nya itu, secara suka rela, dimana semua orang dari yang orang biasa, pesohor, bahkan mungkin sampai pejabat secara sadar memilih sebuah brand untuk mereka kenakan sehari-hari dengan bangga, tanpa ada paksaan sama sekali, dan tanpa ada bayaran sama sekali.
Tagged , , , , , , ,

Kangen Semiotika

Mari kita mulai dengan Bismillah, segala sesuatu toh akan dimulai dengan Bismillah kalau mau ujung-ujungnya enak, paling tidak berkah lah.

Jumat ini Idul adha, tapi sedikit kesiangan tadi, alhasil ngga ikutan solat Ied, tapi bukan itu kok bahasannya, toh kalau katanya Muhammad Nuruddin Tayasi, seorang kawan lama dari SMA dulu “hubungan lo sama Allah itu hubungan yang vertikal boy, manusia ngga perlu tau apa-apa” setuju banget dong pastinya? iyalah…
Nah, jadi gini…
Pasti pernah dong liat billboard ini? (biasanya sih ada di sekitaran kemang sama yang pasti banget ada tuh deket Seven Eleven seberang Taman menteng) yak…ini adalah kampanye Mrlboro yang baru, varian terbarunya Marlboro yang seinget saya namanya Ice Blast, apa yang menarik disini? itu yang mau saya bahas.
Jadi sedari kecil dulu saya selalu ingat kalau Marlboro itulah identik dengan koboi, kuda jantan dan alam liar, ketemu dong semiotikanya disitu? beneeerrr…jadi sebagai penanda dan membulatkan mitos bahwa konsumennya Marlboro itu adalah org “bad boy“, cuek, seruntulan, jantan, laki banget, suka sama alam liar (yah mungkin disini juga diibaratkan dengan mencintai Mother Nature kali yah) sampe situ kita rem, seinget saya yah, waktu itu pernah nonton iklan Marlboro di salah satu film independent yang dibuat sama bule yang ngebahas soal anak kecil ngerokok mild itu tuh, lupa judulnya apa tuh film, dari tadi ngubek-ngubek youtube ga nemu, pokoknya yang di film itu dibahas soal orang-orang philip morris yang lagi bikin event apa gt di JCC trus pas ditanya ngerokok apa ngga ternyata mereka ngga ngerokok, nah jadi, di dokumenter itu juga diperlihatkan tuh awal mulanya iklan Marlboro Man itu, si koboi diperlihatkan sedang merokok dengan latar padang pasir atau apa gitu ya, pokoknya jantan banget lah pencitraan icon si Marlboro Man ini, itu tahun 1954 kalau tidak salah awalnya pembuatan iklan itu, dipake sampe tahun 1999, dan kampanye itu dibuat sama agency impian saya Leo Burnett(curhat nih lama-lama).
Sebetulnya sampe beberapa waktu lalu yah, which means tahun-tahun 2010-an juga Marlboro masih menggunakan pencitraan kejantanan itu dengan kuda dan koboi, beberapa kali gue liat di baliho nya Marlboro sekitaran Jakarta Selatan, bahkan waktu ada event yang di sponsori Marlboro pun tetap menggunakan icon cowo macho nan berkulit rada gelap (restu sinaga kalau tidak salah waktu itu, dan sekali lagi gue lupa nama eventnya).
Sampe pada suatu waktu di tahun 2012 ini, saya lihat iklan Marlboro Ice Blast dengan kampanye nya yang menggunakan…KUCING…yak, buyar semua mindset saya yang sudah terbentuk dari beberapa tahun sebelumnya soal Marlboro tentang kejantanan dan segala macem pencitraan ke-macho-annya itu, kucing itu yang saya tahu yah binatang yang manja, imut-imut ga jelas gt kan…trus apa hubungannya sama Marlboro?
Menariknya adalah, ketika saya search di google tentang baliho ini, saya menemukan sebuah tulisan di bold yang menarik, yang menjelaskna kalau gambar di dalam baliho itu adalah sejenis kucing yang diberi nama COUGAR , cougar sendiri adalah sejenis kucing besar yang banyak ditemui di Amerika (native nya emang disitu sih), pada abad ke-17 seorang ahli hewan dari Jerman, Georg Marcgrave, menamai si kucing besar itu, cuguacu arapemberian nama oleh Marcgrave ini atas dasar apa yang telah dilakukan juga oleh rekannya, seorang ahli hewan asal Belanda, bernama Willem Piso,  yang juga melakukan penelitian pada tahun 1648, cuguacu ara kemudian diganti menjadi cuguar oleh seorang ahli hewani dari Perancis yang bernama, Georges-Louis Leclerc, Comte de Buffon di tahun  1774 (konversi penamaan ini dirasa-rasa merujuk kepada nama Jaguar, yang memang sudah ada seblumnya), daaaann…nama cuguar ini kemudian di modifikasi lagi dalam bahasa Inggris menjadi COUGAR.
Seiring dengan perkembangan zaman dan penggunaan bahasa-bahasa slang yang banyak terjadi di seluruh dunia, di Amerika juga tentunya, penggunaan nama COUGAR pun berubah fungsi, dari yang awalnya hanya sebagai nama seekor kucing besar, kini COUGAR juga adalah sebuah bahasa slang populer yang secara khusus mengidentifikasikan wanita berumur 30-40 tahun yang meng-incar lelaki muda untuk dijadikan kekasih atau untuk berhubungan seks. Sebenarnya penggunaan kata ini pertama kali masih diragukan, hanya saja diyakini penggunaan kata ini untuk mengartikan “Tante Girang” berawal dari sebuah website per-kencan-an http://www.cougardate.com di bagian barat Kanada, dan istilah slang ini juga sering di populerkan di berbagai media periklanan, serial tv, radio maupun film, inget dong sama serial cougar town beberapa waktu lalu? yang diputer di fox kalo ngga salah (CMIIW), nah itu salah satu bentuk penggunaan mitos dan istilah ini.
Penelitian saya ini memang hanya iseng-iseng semata, awalnya adalah bentuk kekecewaan saya sama Marlboro, karena telah merubah mindset saya selama bertahun-tahun lamanya, padahal yah, Marlboro Black Menthol yang notabene lebih banyak dihisap sama perempuan tetep menggunakan kuda hitam untuk kampanyenya, mendadak pas Ice Blast keluar ke pasaran langsung hilang kejantannya Marlboro, hilang sama sekali, kampanye periklanan untuk Marlboro Ice Blast sangat diruncingkan untuk konsumen wanita, dan lebih jelasnya, spesifikasinya adalah untuk konsumen “Tante Girang” dan menurut saya, hmmm, entahlah, sarkas atau cerdas? anda sendiri lah yang menilai.
“Marlboro…i see what u did there…”
 
PS : sejujurnya saya masih penasaran kenapa istilah COUGAR ini diruncingkan mengacu kepada tante girang, mungkin kalau waktu saya sudah cukup nanti saya akan posting kenapa orang-orang di bagian barat Kanada sana mengistilahkan tante girang dengan istilah COUGAR, apakah jenis kucing besar ini memang suka main seks dengan pejantan yang masih muda? ataulah hanya pengistilahan anak-anak iseng semata? kita akan buktikan nanti, sekarang saatnya mandi, saya belum mandi dari tadi…
Tagged , ,

Berdoa apa ngga sih sebenernya?

Apakah kamu menyukai jika kawan mu meminta sesuatu yang penting kepadamu dengan berteriak-teriak? Atau ada teman mu yang sangat butuh bantuanmu tp dia minta tolongnya dengan cara me-mention mu di twitter atau facebook status? Padahal keadaannya saat itu hape mu aktif dan sinyalnya “ngaceng” sangat, trus temen mu itu udah tau banget nomor handphone kamu,tapi tetep dia mention kamu di twitter utk minta pertolongan mu,kesel ga?
Gua sih jujur aja ya ini bukan pengalaman pribadi,cuma gua meng-analogikan aja keadaan ini ketika gua jumatan gua menjumpai banyak banget ustad2 yang berdoa sambil tereak-tereak sampe serak,sampe pekik telinga ngedengerin doanya yang ada di hati gua jg bukan tentu sebuah kata “amin” melainkan komentar sinis seperti “ini ngapa sih doanya bgini amat?!” Dan gua yakin bukan cm gua yang berfikiran seperti ini.

Yang satu lagi tentu saja berdasasarkan pengamatan gua terhadap temen2 gua yang bisa2nya gt di status facebook, bbm atau di twitter nulis “ya Allah mudahkan lah jalan ku” itu yang kayak bgitu entah miskin pendidikan atau kurang kasih sayang dari org tua yah? Padahal gua ngeliat temen2 gua yang kayak gt rata2 org mampu loh (ya jelas aja mereka berdoa lewat twitter for blackberry) otomatis mereka mampu dong beli sajadah? Yengga? Tapi kenapa masih dangkal aja ya pemikirannya mereka? Malah berdoa via twitter! Gua pernah ngomentarin satu org temen gua yang kayak gt malah di katain sok suci,homo,dsb…hahahaha.

Semakin jelas aja kalo anak2 yang berdoa via twitter itu otaknya dangkal dan kurang pendidikan dan yang pasti mereka kurang kasih sayang dr orang tua mereka. Yaiyalah,gua sih jujur aja,pendidikan agama gua emang minim yah cuma gua masih inget betul bahwa ada ayat (yang kurang lebih isinya bgini CMIIW) bilang “berdoalah di malam hari ketika org2 sudah tertidur dan berdoalah dengan suara yang pelan” (kurang lebihnya gt) nah kan…kalo memang org2 yang berdoa di twiiter atau ustad yang di masjid itu memang punya pendidikan yang baik,otaknya ga dangkal,dan kasih sayang dari orang tuanya cukup,pasti ga bakal lah berdoa sambil jerit2 apalagi memohon sama Allah di twitter! Hahahaha…twitter sendiri buatan yahudi,mana ada Allah dengerin doanya org twitteran,karena gua pun sangat yakin bahwa orang-orang yang berdoa di twitter itu pasti pas ngetik lagi rebahan sambil pake celana kolor! Boro2 inget solat,ngambil wudhu aja udah enggan kali. Gua cm berharap aja, mudah2an kedepannya umat Islam,terutama anak2 muda yang punya blackberry dan ustad2 baru yang ceramah di masjid,bisa lebih santun dan sopan lagi sm Allah,karena biar gimana juga Allah itu Tuhan,pencipta alam semesta,masa lo minta sama Allah di twitter atau sambil tereak2? Jangan bodoh lah

Tagged , ,

Semiotika 2

Semiotika Oleh Ferdinand de Sausure :

  • ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial
  • ilmu yang mempelajari struktur, jenis tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat
  • semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antara komponen-komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya
  • Beberapa Prinsip dalam semiotika Sausure :
  1. Prinsip Struktural : Sausure memandang relasi tanda sebagai relasi struktural. Tanda dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material. Menekankan pada relasi secara total unsur-unsur yang ada di dalam sebuah sistem (bahasa). Sehingga, yang diutamakan bukanlah unsur itu sendiri, melainkan relasi diantara unsur-unsur tersebut.
  2. Prinsip Kesatuan : Sebuah tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yang bersifat konkrit atau material (suara, tulisan, gambar, objek) dan bidang petanda (konsep, gagasan, ide, makna). Ada kecenderungan metafisik pada konsep semiotik Sausure, dimana sesuatu yang bersifat non-fisik (petanda, konsep, makna, kebenaran) dianggap hadir di dalam sesuatu yang bersifat fisik (penanda).
  3. Prinsip Konvensional : Relasi struktural antara sebuah penanda dan petanda, dalam hal ini, sangat bergantung pada apa yang disebut konvensi, yaitu kesepakatan sosial tentang bahasa (tanda dan makna) diantara komunitas bahasa. Konvensi memungkinkan tanda memiliki dimensi sosial, dan dapat digunakan di dalam wacana komunikasi sosial. Tanda disebut konvensi sosial, dalam pengertian, bahwa relasi antara penanda dan petandanya di sepakati sebagai sebuah konvensi sosial.
  4. Prinsip Sinkronik : Keterpakuan pada relasi struktural menempatkan semiotika struktural sebagai sebuah kecenderungan kajian sinkronik, yaitu kajian tanda sebagai sebuah sistem yang tetap, di dalam konteks waktu yang dianggap konstan, stabil, dan tidak berubah.
  5. Prinsip Representasi : Sebuah tanda merepresentasikan sebuah realitas yang menjadi rujukan atau referensinya. Keberadaan tanda sangat bergantung pada keberadaan realitas yang direpresentasikannya. Realitas mendahului sebuah tanda, dan menentukan bentuk dan perwujudannya.
  6. Prinsip Kontinuitas : Ada kecenderungan pada semiotika struktural untuk melihat relasi antara sistem tanda dan penggunaannya secara sosial sebagai sebuah “continuum”, dalam konteks semiotika disebut semiotic continuum. Yaitu sebuah relasi waktu yang berkelanjutan dalam bahasa, yang didalamnya berbagai tindak penggunaan bahasa  selalu secara berkelanjutan mengacu pada sebuah sistem atau struktur yang tidak pernah berubah, sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perubahan radikal pada tanda, kode, dan makna.

Sumber di kutip dari buku Yasraf Amir Piliang yang berjudul Hiper Semiotika

Semiotika 1

Semiotics, pernahkan kau dengar istilah ini? saya suka mendengarnya, semiotika. dulu ketika (kalau tidak salah) semester 5 atau 6 saya mendapati istilah ini ketika mengikuti kuliah fotografi iklan.

lalu, apa sesungguhnya semiotika ini? semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna (Benny Hoed; Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya; 2008:3).

Ferdinand De Saussure, seorang yang disebut oleh John Lyons sebagai “pendiri Linguistik modern” (Alex Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:43) mendefinisikan semiotika di dalam Course in General Linguistics, sebagai “ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial” (Alex Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:vii). Lalu siapa pula Saussure ini? Ferdinand De Saussure dilahirkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Selain sebagai seorang ahli linguistik, ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa indo-eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu sosial dan kemanusiaan (Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:45). Saussure menyumbangkan lima pandangannya yang kemudian menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang :
1. signifier (penanda) dan signified (petanda)
2. form (bentuk) dan content (isi)
3. langue (bahasa) dan parole (tuturan dan ujaran)
4. sinkronik dan diakronik
5. sintagmatik paradigmatik
penanda dan petanda yang cukup penting dalam upaya menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yakni signifier dan signified (penanda dan petanda). sebagai contoh, suara-suara, baik itu suara binatang maupun manusia ataupun bunyi-bunyian hanya bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa apabila suara atau bunyi tersebut mengekspresikan, menyatakan, atau menyampaikan ide-ide, pengertian-pengertian tertentu. untuk itu suara-suara tersebut harus merupakan bagian dari sebuah sistem konvensi, sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sistem tanda (Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:46)

lalu apa itu tanda? para strukturalis, merujuk pada Ferdinand De Saussure, melihat tanda sebagai pertemuan antara bentuk (yang tercitra dalam kognisi seseorang) dan makna (atau isi, yakni yang dipahami oleh manusia pemakai tanda). De Saussure menggunakan istilah penanda untuk segi bentuk suatu tanda, dan petanda untuk untuk segi maknanya. dengan demikian, De Saussure dan para pengikutnya (antara lain Roland Barthes) melihat tanda sebagai sesuatu yang menstruktur (proses pemaknaan berupa kaitan antara penanda dan petanda) dan terstruktur (hasil proses tersebut) di dalam kognisi manusia. Dalam teori De Saussure, penanda bukanlah bunyi bahasa secara konkret, tetapi merupakan citra tentang bunyi bahasa (image acoustique). dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita dilihat sebagai “bentuk” yang mempunyai “makna” tertentu. Masih dalam pengertian De Saussure, hubungan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, yakni didasari oleh “kesepakatan” (konvensi) sosial. (Benny Hoed; Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya; 2008:3).

yah singkat cerita sih yah, semiotika itu adalah bagaimana kita (manusia) melihat sebuah tanda kemudian mengartikannya menurut kemampuan inderawi kita, pengalaman, latar belakang kebudayaan, dan pengetahuan kita. bagaimana kita (manusia) melihat seekor singa bukan cuma sebagai sesosok daging terbungkus kulit dengan warna kuning keemasan, berambut pirang lebat tak beraturan, serta bertampang sangar tak karuan, tetapi jauh ke dalam, kita (manusia) mengartikan singa sebagai sosok pemimpin, sekaligus sebagai simbol kegarangan, dan simbol respect, sesuai dengan mitos yang berkembang kepadanya yaitu, raja hutan.

Tagged , ,