Category Archives: artikel

Kitab Suci

Beberapa kali di sebuah sosial media terkemuka yang di kuasai oleh seorang pemuda bernama Mark gue melihat postingan yang cukup menggelitik, dalam postingan yang berbentuk gambar tersebut terdapat tulisan :

“baca doa-doa ini jika ingin rejeki mu lancar”

atau postingan bergambar lain seperti :

“baca ayat ini supaya rejeki mengalir deras”

dan seterusnya, bla bla bla

Tentu saja, apa yang ada di dalam postingan tersebut merefer kepada surat-surat yang terdapat dalam kitab suci Al Quran, kitab suci yang diturunkan kepada Rasul Allah, Muhammad (Sallahualaihi Wassalam) sekitar 1400 tahun yang lalu, yang konon, hingga saat ini, fungsi dan kandungan serta isi di dalam kitab suci tersebut belum berubah sama sekali (inshaallah, hanya Allah yang lebih tahu, tentunya) .

Jujur saja, gue mengernyitkan dahi ketika gue membaca isi di dalam postingan gambar tersebut, bagaimana tidak? sejak kapan sih Rasul Allah, Muhammad (Sallahualaihi Wassalam) mengedepankan umatnya membaca Al Quran untuk kepentingan kelancaran rejeki? yah, gue memang bukan pembaca setia Al Quran atau Hadist sih, tapi gue tahu persis, bahwa tujuan dari membaca ayat-ayat dan surat-surat yang ada di dalam Al Quran itu bukan semata mata untuk kepentingan seperti itu saja!. Kenapa gue bilang seperti ini? karena di sosial media terkemuka yang di kuasai oleh seorang pemuda bernama Mark itu, masih banyak juga orang-orang dengan pemikiran yang kurang maju, otomatis dengan munculnya postingan bergambar seperti yang gue sebutkan diatas, akan membuat orang-orang tersebut menjadi termotivasi untuk membaca ayat ataupun surat yang di maksud di dalam postingan, tentu saja menjadi suatu hal yang bagus, apabila seorang Muslim mau mulai membaca Kitab Sucinya, kan? tapi yang gue takutkan disini adalah, postingan bergambar yang gue maksud diatas justru hanya akan memotivasi seseorang (yang memiliki pemikiran sempit) untuk membaca Al Quran demi mendapatkan kekayaan dan harta yang berlimpah, jadi orang orang ini akan membaca Al Quran dan menghapalnya, namun mereka tidak betul betul mengetahui apa makna dan arti sesungguhnya dari apa yang mereka baca.

Fatalnya adalah, ketika mereka membaca mengulang-ulang ayat atau surat yang telah di tuliskan di dalam postingan, dan mereka tidak mendapatkan kekayaan atau rejeki yang berlimpah, maka apa yang terjadi? mereka akan berhenti membaca Al Quran, mereka akan berfikir bahwa cara yang mereka lakukan untuk menambah jumlah harta di rekening mereka ini salah, dan mereka perlu mencari cara yang lain, maka kembalilah Al Quran mereka mereka itu ke dalam rak buku dan dibiarkan disitu hingga berdebu.

Al Quran adalah pedoman hidup, sumber ilmu, firman Allah Subhanahuawataala, Al Quran adalah manual book, user guide bagi kita, manusia, untuk menjalani kehidupan.

Al Quran bukan buku mantra yang dengan membacanya kita bisa berubah menjadi super atau hebat, bukan, kawan, Al Quran seharusnya menjadi pedoman bagi kita semua untuk menggali rahasia kehidupan, Al Quran bukan buku sulap yang ketika kamu baca lalu besok hari nya rekening mu menjadi gendut, melainkan Al Quran adalah bagaimana cara yang seharusnya kamu lakukan untuk mendapatkan rejeki tersebut, dari mulai bangun pagi pagi, lalu memulai pekerjaan yang halal, hingga mengakhirinya dengan tawakal, sebuah sistematika yang jelas dan terstruktur dengan baik apabila kamu memahaminya, kalau masalah rejeki mengalir deras dan berlimpah, itu murni urusan Allah Subhanahuwataala, mutlak.

Gue menganalisa sendiri dari apa yang gue lihat di sekitar gue, masih banyak memang, orang-orang naif yang membaca Al Quran (atau sebagian daripada surat maupun ayat ayat yang ada di dalam Al Quran) untuk kepentingan diri pribadinya saja (yah, misalnya hanya membaca beberapa ayat saja karena yang bersangkutan diberitahu bahwa dengan membaca beberapa ayat itu maka dia akan menjadi kaya raya), banyak juga kok orang yang jadi mendadak rajin solat lima waktu karena ada iming iming seperti :

“solat subuh itu membuka pintu rejeki”

“solat dhuzur itu melancarkan rejeki”

“solat ashar tepat waktu doa akan dikabulkan Allah”

dan seterusnya dan seterusnya

Gue secara pribadi bukannya ngga percaya sama kekuatan solat, tapi kalo dihubung-hubungkan antara solat dan menjadi orang yang banyak rejeki gue sih mengernyit pasti, karena “solat itu menjaga hati lo dari perbuatan keji dan munkar, tentu saja apabila solat itu dilakukan dengan benar, tulus, dan khusyuk) hahahahaha, itulah kita, itulah manusia, harus banget tau imbalan baru deh mau ngelakuin sesuatu, dan kadang persepsi rejeki itu dekat sekali dengan kemakmuran, kekayaan, dan kemewahan duniawi yang terukur dengan jumlah kurs dolar maupun beratnya gram logam mulia,  banyak di sekitar gue yang ngga mengerti bahwa udara pagi yang segar dan bangun tidur dalam keadaan sehat walafiat disertai kentut yang lancar menggelegar itu juga termasuk rejeki! tak ternilai, coba aja, lo bangun tidur di sebuah area pegunungan yang udaranya nikmat bukan kepalang tapi lo ngga bisa kentut…sengsara lo!

Jadi gitu, sekali lagi, ini bukan lah tulisan tentang keagamaan yang mendalam, atau gimana gimana, gue juga bukan muslim yang taat, gue cuma muslim yang rada eneg aja sama beberapa orang (yang entah maksudnya apa) yang suka mengait-ngaitkan antara ibadah dan kekayaan harta atau kemewahan, karena bukan itu intinya ibadah, ibadah adalah kewajiban kita sebagai manusia, ibadah adalah tugas manusia di dunia, sebagaimana Allah berfirman :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

karena Allah sudah menciptakan kita, ibadah yang termasuk di dalam nya solat dan membaca surat dan ayat ayat Al Quran adalah bentuk rasa syukur kita terhadap Allah Subhanahuwataala atas segala yang telah Dia berikan kepada kita, sekaligus menjadi media bagi kita untuk memahami bagaimana cara kerja alam semesta ini, bagaimana menjalani hidup supaya menjadi peribadi peribadi yang baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar kita dan tentunya sebagai peringatan bagi kita, bagi umat manusia.

Jadi kalo ada yang bilang, “lo mau kaya sob? nih lo baca nih surat ini, ayat ini, setiap hari 3 kali, pas subuh, dzuhur, ama ashar, trus jangan lupa solat dhuha, solat dhuha manggil rejeki tuh”

ketawain aja, orang orang yang seperti itu kalo menurut gue sih mesti lebih banyak ikut acara-acara peng-kaji-an Al Quran  dan ngurang-ngurangin nonton acara-acara TV lokal terutama yang isinya “dakwah” murahan sekelas “ustad” pelawak.

Advertisements
Tagged , ,

(Sebagian Dari) Bangsa-Ku Bermental Budak, Sedih Aku

Bangsa Indonesia bermental budak, yah paling tidak desainer desainer nya bermental budak.

Kenapa? Jadi gini. Selama beberapa tahun belakangan, sekitar 5 tahunan belakangan, gue manggantungkan hidup gue dari sebuah profesi yang ngga bikin perempuan manapun kagum, profesi itu adalah “Desain Grafis”, emang sih sengaja terjun ke profesi ini karena suka gambar dari kecil, hanya saja, karena tuntutan kehidupan dan blablabla memaksa gue harus banyak banyak istighfar, sabar, dan tawakal serta rajin rajin cari side job-an, biasanya kalo gue sih (ngga tau yah kalo temen temen desainer yang lain) nyari side job-an itu gampangnya setengah mati, banyak banget orang sekitaran gue yang lelaguan, segala foto BBM doang lah pengen di edit-edit aneh, segala bon makanan atau sertifikat kursus lah pengen di edit harga dan nilainya, dan masih banyak lagi lah side job-an side job-an sejenis yang kesemuanya itu tentu saja TIDAK ADA IMBALANNYA SAMA SEKALI atau biasa di sebut PROYEK TENGKYU, yah, sama sekali ngga ada, entah gue nya yang baik banget, katrok, minderan, atau memang gue berada di lingkungan orang orang yang ahli perhitungan bin pelit maidit kejepit suprit?! entahlah, hanya mereka dan keluarganya yang funky funky aja kali yang tahu.

Dengan kenyataan superti itu, tentu saja gue ngga bisa dong terus terusan jadi desainer “baik”, selain itu merugikan gue itu juga merugikan anak dan istri gue, bagaimana bisa toh gue beli popok dan susu anak gue hanya dengan ucapan “makasi ya sob” atau “gile lo emang jago banget deh, makasi banyak yah”. Gayung pun bersambut ketika gue menemukan sebuah situs bertajuk http://www.99designs.com* di situs ini selain hadiahnya pake dolar (walaupun kalo di rupiahin sebenernya ngga gede gede amat juga) klien kliennya pun dari luar negeri semua, jadi kesempatan buat nyari uang sekalian menuh menuhin portfolio plus melebarkan sayap ke luar negeri dong, sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui kalo katanya bapak ibu kita dulu mah, namun sungguh memang rejeki tiap tiap umat sudah ditentukan oleh Allah Subhanahuwataala, berkali kali ikutan kontes desain di website tersebut gue ngga pernah menang, sehingga gue balik lagi ke PROYEK TENGKYU tadi untuk beberapa saat, sampai akhirnya gue menemukan lagi situs sejenis bertajuk http://www.sribu.com* , di situs ini hadiahnya pake rupiah (dan nominalnya sangat sangat kecil sekali, bahkan kalo menurut gue masih gedean gaji kuli bangunan yang ngerjain proyek MRT daripada bayaran pemenang kontes di situs ini) dan kliennya pun dari Indonesia, yah, walaupun perbandingannya jauh sama 99designs, tapi kalo buat sekedar beli susu sama popok doang mah lumayan juga sih, jadilah gue mulai rutin ikutan kontes desain di website sribu ini.

Jadi, apa yang gue mau ceritain disini adalah pengalaman singkat gue menjadi kontestam di beberapa kontes yang diadakan baik di 99designs maupun di sribu. Gue melihat sekali bagaimana pekerja kreatif di negeri busuk ini (baca : Indonesia) sangat tidak di hargai, coba saja anda bayangkan, gue pernah (bahkan sering) menjumpai kontes-kontes logo dalam situs sribu yang hadiahnya cuma 640 ribu rupiah, yah, sebuah logo, sebuah konsep dan buah pemikiran yang ngga sembarangan itu hanya di hargai 640 ribu rupiah! sungguh kejam! tapi tetep aja tuh banyak yang ikutan, bisa sampe 50-an lebih kontestan, tentu saja itu jadi bikin gue secara pribadi tambah sedih, bagaimana tidak? kok bisa bisanya gitu yah, si pemilik perusahaan yang ngga punya otak itu ngasih harga cuma 640 ribu buat sebuah logo? belum lagi pihak pemilik situs, kok iya di approve aja gitu yah kliennya cuma punya budget segitu? sungguh memilukan. Nah itu kan dari segi si penyelenggara kontes ya, dari segi desainernya juga ngga kalah memilukan loh, nih contoh salah satunya :

Screen Shot 2015-10-13 at 10.37.11 PM

kolom komentar kalo di situs sribu, penuh bos, penuh sama CARMUK-an CARMUK-an desainer lepas yang kelihatan banget butuh pengakuan dan duit jajan dari mulai desainer kampungan yang nulis

“Dear CH, tolong di cek dan di rate ya desain nomor sekian”

atau desainer super duper kampungan yang nulis

“Dear CH makasih ya bintangnya”

atau ada lagi yang katrok ngga ketulungan

“Desain nomor sekian kok sama yah kayak desain ini (sambil kasih link logo yang memang bentuknya mirip)”

Nah kelihatan banget kan mentalnya rendah?

Padahal logika aja dong yah, ketika kita upload desain kita, kan pasti si penyelenggara kontes dapat notifikasi, otomatis dia bakal lihat kalo kita upload desain, dan kalau dia memang suka ngapain juga kita sodor-sodorin dengan gaya cari muka khas PNS yang lagi ngejilat pantat atasannya. Jikalau memang perlu kita membahas desain kita secara detail atau kalau kita memang perlu banget jilat pantat nya si penyelenggara kontes, kan ada kolom private komen di tiap tiap design yang sudah di upload, tulis aja disana, jadi yang bisa baca memang cuma si desainer dan si penyelenggra kontesnya doang.

Trus yang kedua adalah dalam proses rating, kalau sudah di rating nih, mulai deh nyohor di komen, yaelaaaahhhh! penting emangnya ya? aduh, ini nih kebiasaan orang Indonesia yang susah banget ilangnya, asli susaaaahh banget! gue banyak loh menjumpai orang yang kerjaannya nyohor melulu, kayak salah satu contoh aja nih temen gue di kantor pernah bgini :

Temen Gue : duh ru, ngantuk banget gue

Gue : emang kenapa lo bro? begadang semalem? (tanggapan ini sebenernya basa basi karena sesungguhnya gue males nanggepin cuma karena gue ngga enak jadi yah mau ngga mau namanya juga sama temen kantor)

Temen Gue : iya, semalem gue ngga bisa tidur trus gue bingung kan mau ngapain, yaudah deh gue solat tahajud aja, abis tahajud gue baca Al-Quran tuh sampe jam 3, trus gue lanjutin aja sahur, gue niatin aja puasa sunnah, trus gue ngga tidur lagi tuh sampe subuh, lanjutin solat subuh di masjid, trus gue blablablabla…dia cerita deh semua amalan amalannya dia hari itu

Gue : oh…oke…(dalem hati pengen ngegampar ini orang pake kursi lipet, trus ngelempar badannya dari lantai 3, sampe bawah gue lindes pake bus HIBA Utama, trus gue bakar badannya di rel kereta commuter line, biar sekalian di lindes!!!)

Agak agak mirip sama apa yang dilakukan desainer kita di kolom komen situs sribu itu, mbok yah toh kalo udah di rating yasudah bersyukur aja, Alhamduliillah, semoga bukan cuma rating, tapi menang juga, lah ini baru di rating aja udah nyohor di komen, padahal sekalinya kontes desain bisa ratusan dan sekali lagi, itu bisa di taroh loh di kolom komen pribadi.

Dan yang ketiga adalah plagiarisme, memang sih di pandang dari segi apapun yang namanya menjiplak ide apalagi menjiplak bentuk fisik secara terang terangan itu adalah kesalahan, namun, apakah kita sebagai manusia yang (KALAU) bermoral dan (KALAU) beriman harus menghakimi? haruskah kita menjatuhkan lawan dengan cara seperti itu? apakah si penyelenggara kontes itu orang polos yang bodoh? kalaupun iya, ya itu urusan mereka dan rejekinya si pemenang (apabila desain si plagiat yang jadi pemenangnya), kenapa mesti repot-repot menghakimi dan merasa diri paling benar dan paling original?

Dari ketiga CARMUK-an diatas, gue melihat bahwa mental budak dari bangsa ini sudah lumayan parah, yah paling tidak mental sebagian dari para desainernya, karena, gue sama sekali ngga pernah melihat itu di 99designs, sama sekali bos! di 99designs kolom komentar itu isinya murni brief soal kontes desain yang sedang di selenggarakan, ngga peduli disana ada plagiat atau ada dua desain yang sama persis sekalipun, itu tidak akan di bahas di dalam komen, karena apa? karena mereka cukup dewasa untuk bersikap, urusan para desainer itu ya dengan si penyelenggara kontes, bukan dengan desainer lainnya, persetan desainer lain itu mau plagiat kek, mau original kek, yang penting si penyelenggara kontes ini bisa ngga nerima desain gue, udah gitu aja toh yang penting? padahal yah, yang gue tahu, banyak peserta kontes di 99designs itu orang Indonesia, tapi gue ngga tau di bagian mananya, karena mental mereka bener-bener beda sama orang-orang Indonesia “asli” yang ada di sribu.

Tulisan ini memang tidak akan merubah mental siapapun, tapi gue jujur, gue pengen ada yang tersinggung sama tulisan ini, supaya yang tersinggung itu bisa ngaca, bisa berubah jadi pribadi yang lebih baik, ngga norak dan ngga malu maluin ibu bapaknya.

*Sribu is a website that connects between client who need graphic designs and community of designers from all around the world.

Sribu adalah situs yang menjembatani klien yang membutuhkan jasa grafis desain dengan komunitas dessainer dari seluruh dunia.

Tagged , , , , , , ,

The Power of Customer Care

18.40. Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia.

Inilah kenyataan dalam kehidupan kota sebesar Jakarta, inilah waktu dimana manusia berkumpul tumpah ruah dalam satu rangkaian kereta, semuanya berbeda-beda, ada yang tukang jualan, ada yang pegawai rendahan, ada juga para atasan, semua nya punya satu tujuan, pulang!

Gue adalah salah satu pengguna kereta listrik, yang setiap hari dengan segala dinamikanya, seperti terlambat datang, gangguan pada listrik rangkaian, atau sekedar gerbong yang kepenuhan, semuanya gue lalui setiap hari dengan penuh suka cita, yah paling tidak ini lebih baik tentu saja daripada harus mengendarai sepeda motor melintasi macet nya ibukota hingga ke Selatan kota Tangerang, paling tidak di kereta listrik yang bau ketiak para “kuli-kuli korporasi” ini gue ngga perlu menghirup bau karbon monoksida yang keluar bebas dari pantat-pantat pembuangan kopaja, metro mini dan sejenisnya. Entah kenapa pemerintah masih saja belum ambil tindakan atas keadaan kendaraan umum yang begini, gue heran, sungguh.

Tapi kita tidak juga akan membicarakan tentang dinamika dunia perkereta apian ibukota, asap ngebul kendaraan umum, atau apapun yang berhubungan dengan kesemerautan transportasi publik di Jakarta, gue akan membicarakan sesuatu yang lebih dari pada itu.

Hari itu gue bersama dengan seorang teman turun di stasiun Tanah Abang untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Stasiun Sudimara yang berada di jombang, Tangerang Selatan, karena masih menunggu jadwal kereta berikutnya akibat kami berdua ketinggalan kereta, alhasil gue dan temen gue yang kebetulan memang adalah seorang “pemain lama” dalam dunia perkeretaan listrik mengajak gue ke ujung batas lokasi penurunan penumpang, agak susah yah menuliskan deskripsinya, yah pokoknya ini lokasi dimana seharusnya sudah tidak boleh ada manusianya, karena ini lokasi lintasan kereta, namun ternyata banyak juga orang yang duduk-duduk dilokasi ini, mereka duduk di atas rel kereta api, pada lintasan 5 dan lintasan 6 yang tentu saja “kenikmatan” duduk diatas rel seperti ini adalah ketika ada kereta yang hendak melintas orang-orang tersebut akan berpindah secara berjamaah atas aba-aba dari penjaga

“woooii…5 mau lewat…awas…awas”.

Sampai gue di lintasan bersama temen gue ini, temen gue bertanya kepada seorang ibu-ibu

“bu, yang biasanya dagang gorengan pake sambel kacang mana ya bu?”

“ooohhh…si ompong? si ompong mah udah abis dia jam segini, kalo mau sorean mas”

kurang lebih seperti itu percakapan temen gue dengan si ibu-ibu yang kemudian gue ketahui adalah seorang pedagang “gelap” di lintasan itu, si ibu itu berdagang gemblong (sebuah makanan manis khas Jawa Barat, gue ngga bisa menjelaskan dengan detail mengenai gemblong disini-monggo di gugel yah), aqua, dan rokok, yang pasti sih gemblong nih ibu-ibu enak, setelah gue makan gemblong 3 biji, kereta gue datang, dengan rasa sedikit kenyang gue masih penasaran sama si ompong ini, seenak apa sih gorengan sambel kacangnya?.

Hari kedua gue dan temen gue yang kemarin hinggap di stasiun Tanah Abang lebih cepat, segera setelah turun dari kereta kami berdua menuju lintasan 5, kami menemukan beberapa wajah disana, salah satunya adalah seorang pria berperawakan gemuk, berkulit gelap, menggunakan topi, dengan kaos oblong kebesaran dan celana bahan hitam, membawa sebuah tas yang lumayan besar, dan ketika mulut nya terbuka, tidak terlihat gigi depannya sebuah, jadi sudah dapat dipastikan orang ini pasti tukang gorengan sambel kacang idola semua penumpang yang akrab di sapa ompong, temen gue girang, langsung dia pesen dua bungkus, satu untuk dirinya sendiri dan satu untuk gue, memang cukup unik si ompong ini, gorengan ditaruh didalam plastik dan sudah di potong keci-kecil, tidak seperti lazimnya kalo gue biasa menemui tukang gorengan sambel kacang yang biasanya ditaruh di atas sebuah piring dengan keadaan utuh, tentu saja alasan paling masuk akal untuk hal ini adalah karena si ompong adalah pedagang “gelap”, semenjak Joko Widodo-Ahok memimpin Jakarta, memang mereka melarang orang-orang berdagang di sekitar stasiun kereta, maupun di dalam kereta, jadilah orang-orang seperti si ompong ini berjualan dengan gerilya, menggunakan tas gendong yang ukurannya tidak lebih besar daripada carrier anak-anak pendaki gunung, di dalam tas tersebut sudah tersedia gorengan yang sudah di potong-potong dan di campur, campurannya antara lain adalah : tempe goreng tepung, bakwan, tahu goreng, dan lontong, yang membuat gorengan si ompong ini special adalah kuah bumbu kacangnya, selama gue menjadi langganan baru si ompong, banyak gue jumpai orang-orang berdatangan ke si ompong menanyakan apakah gorengannya masih ada atau sudah habis, bahkan gue sampe harus nge-save nomor hapenya si ompong ini dan rutin setiap sore gue selalu sms dengan bahasa yang sama.

“pong sisain 3”

Hebat ya, ompong tidak pernah beriklan, bikin TVC, bikin print ad, ngga punya twitter, facebook, google+, blogs, instagram, path, atau social media sejenis yang biasanya kita pergunakan untuk media promosi. Modal utama si ompong ini hanya sebuah “keramah-tamahan” dan service yang memuaskan, dia tidak akan sungkan-sungkan untuk bercerita lucu atau sekedar nanya “kerja di mana emangnya lo?” kepada pelanggannya, membangun sebuah koneksi dan channel yang membuatnya tidak mudah untuk di lupakan orang, tentu saja hal ini juga di dukung dengan gorengannya dan bumbu sambel kacangnya yang memang JUARA!.

Melihat begitu banyak pelanggannya si ompong ini, membuat gue berfikir, bahwa inti dari kelangsungan hidup sebuah product yah selain sudah pasti dari kualitasnya sudah barang tentu dari bagaimana sebuah product itu bisa melakukan interaksi dengan khalayaknya, jadi bukan hanya sekedar berjualan lalu laku lalu sudah selesai, apa yang dilakukan ompong ini memang bukan hal baru, dimana lo bisa berinteraksi dengan baik dengan hampir-semua pelanggan lo, banyak juga perusahaan-perusahaan melakukan hal yang sama, melalui media iklan, dengan membuat iklan-iklan yang “touching” secara “emotionally” tapi, tidak semua berhasil, karena apa? karena interaksi yang paling tua dan paling berhasil itu sudah tentu saja interaksi dua arah, dimana kedua belah pihak sama-sama terlibat, dalam arti di sini antara si pengguna dan penyedia product sama-sama bisa saling share dan ngobrol-ngobrol, jadi ada hubungan pengikat yang baik antara customer dengan penyedia product, sehinga customer itu merasa bahwa dia betul-betul dihargai.

Beberapa kali gue sempet “selingkuh” dari sebuah product bukan hanya karena kualitasnya yang buruk, melainkan juga karena interaksi antara customer service nya dengan gue yang kurang baik, tidak ada interaksi berarti disitu, customer care-nya tidak bertindak seperti layaknya manusia yang bisa kita harapkan untuk membantu, tapi justru customer care nya bertingkah seperti robot yang sudah di program untuk menjawab sesuai dengan skenario yang telah di sediakan oleh si pemilik perusahaan. Padahal, pelayanan yang baik terhadap pelanggan adalah hal yang sangat penting dalam kelangsungan hidup sebuah product (Brand).