Tag Archives: articles

the techpocalypse

sometimes i wonder, what if the techpocalypse (not the game) happens soon? what if it really hapens? and we’re forced to live our life just exactly like our ancestors, with bow and arrow and sword and farming and you have to ride a horse to go to indomaret or alfamart and you can see children playing outside, people talk to each other for real, i mean they really talk, yeah, they look into each others eyes and do the…talking…instead of looking down to a bright screen and play with their thumb, well…i think it’s kinda cool, right?

Tagged , , , ,

Ada kalanya, satu reaksi, buat segalanya jadi berarti

“Ada kalanya satu reaksi, buat segalanya jadi berarti”

sebuah punch line dari TVC campaign-nya A mild yang baru, dan (buat saya) itu apik sekali.

Ini sih analisa subjektif aja yah, sekali lagi ini subjektif aja yah.

Saya lupa tepatnya kapan pertama kali saya melihat iklan ini, yang pasti alur dalam cerita iklan ini cukup jelas saya tangkap, seorang anak muda urakan, dengan tatanan rambut agak keriting tak terawat, dandanan seadanya (cenderung agak dekil) dengan style everlasting (style casual nyaman tanpa celana mengkerecet atau baju-baju hebring ala pria-pria hipster masa kini ibukota Jakarta) yang kurang lebihnya dapat dikategorikan ke dalam “anak design” atau “seniman” mungkin lebih tepatnya, di iklan ini diperlihatkan telah selesai membuat sesuatu dalam sebuah frame (umunya yang ada di frame itu yah lukisan atau foto, tapi entah juga mungkin kalo tab di masukkan ke dalam frame jadi kita bisa nonton film di dalam frame kan, tapi saya akan lebih senang menganalogikan, kalau yang berada dalam frame itu adalah GAMBAR), lalu dengan lucunya si pemuda diperlihatkan berkeliling kota, atau bisa di katakan berkeliling dunia untuk memperlihatkan kepada orang-orang mengenai isi dalam frame tersebut, ada beberapa scene lucu yang saya lihat dalam TVC ini, ada kalanya si pemuda urakan tampak memperlihatkan frame kepada turis di sebuah air terjun, dan mereka geleng-geleng, mungkin sebagai penanda mereka tidak tertarik, lalu ada kalanya si pemuda juga memperlihatkan isi dalam frame kepada para pekerja kontraktor dan mereka juga memperlihatkan tanda-tanda tidak tertarik, dengan menggelengkan kepala mereka, bahkan ketika si pemuda urakan memperlihatkan gambar kepada seekor illama, illama itu pun buang muka, namun si pemuda urakan terus berjalan dan berkeliling entah menawarkan atau sekedar memperlihatkan kepada orang-orang tentang isi di dalam frame yang dia bawa, hingga si pemuda urakan tiba di sebuah kota yang kalau saya lihat dari tatanan bangunan dan lingkungannya kota ini agak mirip italia atau paris kali yah, yah pokoknya antara itu deh, di kota ini si pemuda urakan memperlihatkan frame kepada seorang wanita yang sedang duduk di dalam restoran, namun si wanita lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai penanda menolak atau tidak tertarik, di sini lah si pemuda tertunduk layu sambil berjalan gontai ketika ada seorang wanita lain yang juga dari dalam restoran tampak keluar mengejar si pemuda lalu meminta si pemuda memperlihatkan frame kepadanya, ekspresi yang di buat si wanita memberikan pertanda kalau si wanita tampak tertarik dan mereka berdua pun tersenyum, lalu scene berganti dengan latar jalan raya di sebuah gurun dengan si pemuda urakan berjalan di sisi bahu jalan dan ketika ada sebuah mobil yang dengan jelas terihat ada dua orang wanita di dalamnya melintas, si pemuda urakan mengangkat frame memperlihatkannya ke arah dua orang wanita di dalam mobil yang sedang melintas tersebut, kedua wanita mengangkat tangannya menandakan seperti mereka peduli dan menunjukkan ekspresi kegembiraan, kamera zoom in ke wajah si pemuda urakan yang menampakkan ekspresi kepuasan lalu VO dengan copy write

“ada kalanya satu reaksi buat segalanya jadi berarti”

nah, abis deh TVC nya, mungkin untuk sebagian orang akan berfikir
“ih apaan sih nih iklan? Ngga jelas!”
atau sebagian lagi mungkin akan menilai
“wuih gila a mild buat iklan rokok aja sampe pake bule trus kayaknya keliling dunia tuh! Itu kan air terjunnya niagara falls, trus itu kan restoran kayak gitu ga ada tuh di Indonesia blablabla”
atau juga yang akan langsung mengganti saluran televisinya sambil mengeluh “ah elah lama banget sih iklannya”
tapi buat saya, ini iklan adalah sebuah cerminan, adalah sebuah keadaan yang saya sendiri pun (berdasarkan analisa subjektif saya yah tentunya) merasakan betul apa yang si pemuda urakan di atas rasakan. Kalau saya memposisikan diri saya sebagai si pemuda urakan maka akan saya dapati sebuah alur dimana :
saya, sebagai seorang self taught graphic designer (desain grafis yang belajar sendiri) atau dengan kata lain anak desain tanpa sejarah kepemilikan ijasah DKV dan tentunya embel-embel sarjana seni, yang baru saja selesai membuat sebuah karya kecil-kecilan (biasanya karya kecil-kecilan ini adalah sebuah tracing vector painting atau tracing digital painting atau hanya sekedar typhography yang memang langganan saya buat sebagai sarana untuk memperdalam ilmu desain saya, mengembangkanya, mengasah insting, dan tentunya sebagai sarana untuk promosi supaya bisa dapat kerjaan sampingan) kecenderungannya karya itu akan saya promosikan lewat website-website online portfolio, atau website-website populer lainnya, seperti deviantart.com, tumblr.com, behance.net, atau website-website blogging seperti wordpress dan blogspot, dan belakangan juga saya banyak mempromosikan karya-karya saya lewat instgram, nah setelah karya-karya saya masuk ke dalam web-web diatas, itulah saat dimana saya menunggu dengan penuh pertanyaan, menanti, dan mulai ketar-ketir, apakah orang-orang akan ada yang menghargai karya saya? Sekedar nge-reblog, nge-like, atau syukur-syukur comment positif soal karya yang sudah sya masukkan itu, dari sini apa kalian menangkap korelasinya?
Kegiatan saya yang meng-upload itu kan judulnya di website yah, di www (world wide web) yang notabene akan dapat dilihat oleh orang banyak, di seluruh belahan dunia, dengan catatan si orang itu punya akses internet, nah itu di gambarkan sangat jelas di dalam iklan a mild, dengan si pemuda yang berkeliling dunia memperlihatkan frame (atau isinya) ke orang-orang di seluruh dunia (sebenernya ini gue ngga bisa bilang seluruh dunia yah, cuma kan dari setting latarnya yang berubah-ubah kita bisa lihat kalau memang beda-beda, ada gurun pasir, ada bangunan tua khas Eropa, ada air terjun niagara, ada kontainer-kontainer di pelabuhan, dsb)

Saya rasa itulah cerminan yang berusaha di buat A mild dalam campaign TVC mereka yang baru itu, bagaimana kita (karena saya yakin, yang melakukan hal seperti saya di atas bukan cuma saya) baik sebagai desainer yang belajar sendiri ataupun desainer yang memiliki ijasah, sebagian besar pasti pernah berada dalam posisi si pemuda urakan, posisi dimana kita sudah membuat dengan serius sebuah karya sebagai “amunisi” yang kita buat untuk masuk lebih dalam ke industri kreatif ini.
Jadi kalau boleh saya gambarkan secara harafiah dan sempit menurut subjektifnya saya mungkin begini yah, si pemuda urakan adalah seorang seniman grafis yang baru saja menyelesaikan sebuah karya yang (menurut dia, apik) tentunya kalau dalam kehidupan nyata kita tidak mungkin juga kan bawa-bawa hasil cetakan keliling dunia cuma buat nanya ke orang-orang “pak menurut bapak ini gimana?”, jadi scene dimana si pemuda urakan keliling dunia untuk memperlihatkan karyanya ke orang-orang itu mungkin realistisnya adalah kita yang meng-upload karya kita ke deviantart, behance, tumblr, blog, fb, instagram, dsb yang memang secara tersirat kita ingin orang-orang melihat, mengapresiasi, atau syukur-syukur ada yang mau bayarin karya kita itu ya, ngga?

Luar biasa memang, keterbatasan yang di ciptakan undang-undang pariwara di negeri ini, membuat para pekerja kreatifnya bener-bener berfikir luar biasa untuk bisa membuat sebuah TVC kampanye periklanan, dan memang kok, rokok a mild itu lekat sekali hubungannya sama anak-anak muda yang berjiwa bebas, kurang lebih anti mainstream, penuh dengan terobosan, ngga suka diatur-atur, sedikit rebel, dan lain lain.

Sekian dari saya, udah mau jam 12 malem, sebatang dulu terus tidur…

Tagged , , , , , ,

Kangen Semiotika

Mari kita mulai dengan Bismillah, segala sesuatu toh akan dimulai dengan Bismillah kalau mau ujung-ujungnya enak, paling tidak berkah lah.

Jumat ini Idul adha, tapi sedikit kesiangan tadi, alhasil ngga ikutan solat Ied, tapi bukan itu kok bahasannya, toh kalau katanya Muhammad Nuruddin Tayasi, seorang kawan lama dari SMA dulu “hubungan lo sama Allah itu hubungan yang vertikal boy, manusia ngga perlu tau apa-apa” setuju banget dong pastinya? iyalah…
Nah, jadi gini…
Pasti pernah dong liat billboard ini? (biasanya sih ada di sekitaran kemang sama yang pasti banget ada tuh deket Seven Eleven seberang Taman menteng) yak…ini adalah kampanye Mrlboro yang baru, varian terbarunya Marlboro yang seinget saya namanya Ice Blast, apa yang menarik disini? itu yang mau saya bahas.
Jadi sedari kecil dulu saya selalu ingat kalau Marlboro itulah identik dengan koboi, kuda jantan dan alam liar, ketemu dong semiotikanya disitu? beneeerrr…jadi sebagai penanda dan membulatkan mitos bahwa konsumennya Marlboro itu adalah org “bad boy“, cuek, seruntulan, jantan, laki banget, suka sama alam liar (yah mungkin disini juga diibaratkan dengan mencintai Mother Nature kali yah) sampe situ kita rem, seinget saya yah, waktu itu pernah nonton iklan Marlboro di salah satu film independent yang dibuat sama bule yang ngebahas soal anak kecil ngerokok mild itu tuh, lupa judulnya apa tuh film, dari tadi ngubek-ngubek youtube ga nemu, pokoknya yang di film itu dibahas soal orang-orang philip morris yang lagi bikin event apa gt di JCC trus pas ditanya ngerokok apa ngga ternyata mereka ngga ngerokok, nah jadi, di dokumenter itu juga diperlihatkan tuh awal mulanya iklan Marlboro Man itu, si koboi diperlihatkan sedang merokok dengan latar padang pasir atau apa gitu ya, pokoknya jantan banget lah pencitraan icon si Marlboro Man ini, itu tahun 1954 kalau tidak salah awalnya pembuatan iklan itu, dipake sampe tahun 1999, dan kampanye itu dibuat sama agency impian saya Leo Burnett(curhat nih lama-lama).
Sebetulnya sampe beberapa waktu lalu yah, which means tahun-tahun 2010-an juga Marlboro masih menggunakan pencitraan kejantanan itu dengan kuda dan koboi, beberapa kali gue liat di baliho nya Marlboro sekitaran Jakarta Selatan, bahkan waktu ada event yang di sponsori Marlboro pun tetap menggunakan icon cowo macho nan berkulit rada gelap (restu sinaga kalau tidak salah waktu itu, dan sekali lagi gue lupa nama eventnya).
Sampe pada suatu waktu di tahun 2012 ini, saya lihat iklan Marlboro Ice Blast dengan kampanye nya yang menggunakan…KUCING…yak, buyar semua mindset saya yang sudah terbentuk dari beberapa tahun sebelumnya soal Marlboro tentang kejantanan dan segala macem pencitraan ke-macho-annya itu, kucing itu yang saya tahu yah binatang yang manja, imut-imut ga jelas gt kan…trus apa hubungannya sama Marlboro?
Menariknya adalah, ketika saya search di google tentang baliho ini, saya menemukan sebuah tulisan di bold yang menarik, yang menjelaskna kalau gambar di dalam baliho itu adalah sejenis kucing yang diberi nama COUGAR , cougar sendiri adalah sejenis kucing besar yang banyak ditemui di Amerika (native nya emang disitu sih), pada abad ke-17 seorang ahli hewan dari Jerman, Georg Marcgrave, menamai si kucing besar itu, cuguacu arapemberian nama oleh Marcgrave ini atas dasar apa yang telah dilakukan juga oleh rekannya, seorang ahli hewan asal Belanda, bernama Willem Piso,  yang juga melakukan penelitian pada tahun 1648, cuguacu ara kemudian diganti menjadi cuguar oleh seorang ahli hewani dari Perancis yang bernama, Georges-Louis Leclerc, Comte de Buffon di tahun  1774 (konversi penamaan ini dirasa-rasa merujuk kepada nama Jaguar, yang memang sudah ada seblumnya), daaaann…nama cuguar ini kemudian di modifikasi lagi dalam bahasa Inggris menjadi COUGAR.
Seiring dengan perkembangan zaman dan penggunaan bahasa-bahasa slang yang banyak terjadi di seluruh dunia, di Amerika juga tentunya, penggunaan nama COUGAR pun berubah fungsi, dari yang awalnya hanya sebagai nama seekor kucing besar, kini COUGAR juga adalah sebuah bahasa slang populer yang secara khusus mengidentifikasikan wanita berumur 30-40 tahun yang meng-incar lelaki muda untuk dijadikan kekasih atau untuk berhubungan seks. Sebenarnya penggunaan kata ini pertama kali masih diragukan, hanya saja diyakini penggunaan kata ini untuk mengartikan “Tante Girang” berawal dari sebuah website per-kencan-an http://www.cougardate.com di bagian barat Kanada, dan istilah slang ini juga sering di populerkan di berbagai media periklanan, serial tv, radio maupun film, inget dong sama serial cougar town beberapa waktu lalu? yang diputer di fox kalo ngga salah (CMIIW), nah itu salah satu bentuk penggunaan mitos dan istilah ini.
Penelitian saya ini memang hanya iseng-iseng semata, awalnya adalah bentuk kekecewaan saya sama Marlboro, karena telah merubah mindset saya selama bertahun-tahun lamanya, padahal yah, Marlboro Black Menthol yang notabene lebih banyak dihisap sama perempuan tetep menggunakan kuda hitam untuk kampanyenya, mendadak pas Ice Blast keluar ke pasaran langsung hilang kejantannya Marlboro, hilang sama sekali, kampanye periklanan untuk Marlboro Ice Blast sangat diruncingkan untuk konsumen wanita, dan lebih jelasnya, spesifikasinya adalah untuk konsumen “Tante Girang” dan menurut saya, hmmm, entahlah, sarkas atau cerdas? anda sendiri lah yang menilai.
“Marlboro…i see what u did there…”
 
PS : sejujurnya saya masih penasaran kenapa istilah COUGAR ini diruncingkan mengacu kepada tante girang, mungkin kalau waktu saya sudah cukup nanti saya akan posting kenapa orang-orang di bagian barat Kanada sana mengistilahkan tante girang dengan istilah COUGAR, apakah jenis kucing besar ini memang suka main seks dengan pejantan yang masih muda? ataulah hanya pengistilahan anak-anak iseng semata? kita akan buktikan nanti, sekarang saatnya mandi, saya belum mandi dari tadi…
Tagged , ,