Semiotika 2

Semiotika Oleh Ferdinand de Sausure :

  • ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial
  • ilmu yang mempelajari struktur, jenis tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat
  • semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antara komponen-komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya
  • Beberapa Prinsip dalam semiotika Sausure :
  1. Prinsip Struktural : Sausure memandang relasi tanda sebagai relasi struktural. Tanda dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material. Menekankan pada relasi secara total unsur-unsur yang ada di dalam sebuah sistem (bahasa). Sehingga, yang diutamakan bukanlah unsur itu sendiri, melainkan relasi diantara unsur-unsur tersebut.
  2. Prinsip Kesatuan : Sebuah tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yang bersifat konkrit atau material (suara, tulisan, gambar, objek) dan bidang petanda (konsep, gagasan, ide, makna). Ada kecenderungan metafisik pada konsep semiotik Sausure, dimana sesuatu yang bersifat non-fisik (petanda, konsep, makna, kebenaran) dianggap hadir di dalam sesuatu yang bersifat fisik (penanda).
  3. Prinsip Konvensional : Relasi struktural antara sebuah penanda dan petanda, dalam hal ini, sangat bergantung pada apa yang disebut konvensi, yaitu kesepakatan sosial tentang bahasa (tanda dan makna) diantara komunitas bahasa. Konvensi memungkinkan tanda memiliki dimensi sosial, dan dapat digunakan di dalam wacana komunikasi sosial. Tanda disebut konvensi sosial, dalam pengertian, bahwa relasi antara penanda dan petandanya di sepakati sebagai sebuah konvensi sosial.
  4. Prinsip Sinkronik : Keterpakuan pada relasi struktural menempatkan semiotika struktural sebagai sebuah kecenderungan kajian sinkronik, yaitu kajian tanda sebagai sebuah sistem yang tetap, di dalam konteks waktu yang dianggap konstan, stabil, dan tidak berubah.
  5. Prinsip Representasi : Sebuah tanda merepresentasikan sebuah realitas yang menjadi rujukan atau referensinya. Keberadaan tanda sangat bergantung pada keberadaan realitas yang direpresentasikannya. Realitas mendahului sebuah tanda, dan menentukan bentuk dan perwujudannya.
  6. Prinsip Kontinuitas : Ada kecenderungan pada semiotika struktural untuk melihat relasi antara sistem tanda dan penggunaannya secara sosial sebagai sebuah “continuum”, dalam konteks semiotika disebut semiotic continuum. Yaitu sebuah relasi waktu yang berkelanjutan dalam bahasa, yang didalamnya berbagai tindak penggunaan bahasa  selalu secara berkelanjutan mengacu pada sebuah sistem atau struktur yang tidak pernah berubah, sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perubahan radikal pada tanda, kode, dan makna.

Sumber di kutip dari buku Yasraf Amir Piliang yang berjudul Hiper Semiotika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: