Daily Archives: November 10, 2009

Semiotika 2

Semiotika Oleh Ferdinand de Sausure :

  • ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial
  • ilmu yang mempelajari struktur, jenis tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat
  • semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antara komponen-komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya
  • Beberapa Prinsip dalam semiotika Sausure :
  1. Prinsip Struktural : Sausure memandang relasi tanda sebagai relasi struktural. Tanda dilihat sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material. Menekankan pada relasi secara total unsur-unsur yang ada di dalam sebuah sistem (bahasa). Sehingga, yang diutamakan bukanlah unsur itu sendiri, melainkan relasi diantara unsur-unsur tersebut.
  2. Prinsip Kesatuan : Sebuah tanda merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara bidang penanda yang bersifat konkrit atau material (suara, tulisan, gambar, objek) dan bidang petanda (konsep, gagasan, ide, makna). Ada kecenderungan metafisik pada konsep semiotik Sausure, dimana sesuatu yang bersifat non-fisik (petanda, konsep, makna, kebenaran) dianggap hadir di dalam sesuatu yang bersifat fisik (penanda).
  3. Prinsip Konvensional : Relasi struktural antara sebuah penanda dan petanda, dalam hal ini, sangat bergantung pada apa yang disebut konvensi, yaitu kesepakatan sosial tentang bahasa (tanda dan makna) diantara komunitas bahasa. Konvensi memungkinkan tanda memiliki dimensi sosial, dan dapat digunakan di dalam wacana komunikasi sosial. Tanda disebut konvensi sosial, dalam pengertian, bahwa relasi antara penanda dan petandanya di sepakati sebagai sebuah konvensi sosial.
  4. Prinsip Sinkronik : Keterpakuan pada relasi struktural menempatkan semiotika struktural sebagai sebuah kecenderungan kajian sinkronik, yaitu kajian tanda sebagai sebuah sistem yang tetap, di dalam konteks waktu yang dianggap konstan, stabil, dan tidak berubah.
  5. Prinsip Representasi : Sebuah tanda merepresentasikan sebuah realitas yang menjadi rujukan atau referensinya. Keberadaan tanda sangat bergantung pada keberadaan realitas yang direpresentasikannya. Realitas mendahului sebuah tanda, dan menentukan bentuk dan perwujudannya.
  6. Prinsip Kontinuitas : Ada kecenderungan pada semiotika struktural untuk melihat relasi antara sistem tanda dan penggunaannya secara sosial sebagai sebuah “continuum”, dalam konteks semiotika disebut semiotic continuum. Yaitu sebuah relasi waktu yang berkelanjutan dalam bahasa, yang didalamnya berbagai tindak penggunaan bahasa¬† selalu secara berkelanjutan mengacu pada sebuah sistem atau struktur yang tidak pernah berubah, sehingga di dalamnya tidak dimungkinkan adanya perubahan radikal pada tanda, kode, dan makna.

Sumber di kutip dari buku Yasraf Amir Piliang yang berjudul Hiper Semiotika

Semiotika 1

Semiotics, pernahkan kau dengar istilah ini? saya suka mendengarnya, semiotika. dulu ketika (kalau tidak salah) semester 5 atau 6 saya mendapati istilah ini ketika mengikuti kuliah fotografi iklan.

lalu, apa sesungguhnya semiotika ini? semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna (Benny Hoed; Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya; 2008:3).

Ferdinand De Saussure, seorang yang disebut oleh John Lyons sebagai “pendiri Linguistik modern” (Alex Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:43) mendefinisikan semiotika di dalam Course in General Linguistics, sebagai “ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial” (Alex Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:vii). Lalu siapa pula Saussure ini? Ferdinand De Saussure dilahirkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Selain sebagai seorang ahli linguistik, ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa indo-eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu sosial dan kemanusiaan (Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:45). Saussure menyumbangkan lima pandangannya yang kemudian menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang :
1. signifier (penanda) dan signified (petanda)
2. form (bentuk) dan content (isi)
3. langue (bahasa) dan parole (tuturan dan ujaran)
4. sinkronik dan diakronik
5. sintagmatik paradigmatik
penanda dan petanda yang cukup penting dalam upaya menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yakni signifier dan signified (penanda dan petanda). sebagai contoh, suara-suara, baik itu suara binatang maupun manusia ataupun bunyi-bunyian hanya bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa apabila suara atau bunyi tersebut mengekspresikan, menyatakan, atau menyampaikan ide-ide, pengertian-pengertian tertentu. untuk itu suara-suara tersebut harus merupakan bagian dari sebuah sistem konvensi, sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sistem tanda (Sobur; Semiotika Komunikasi; 2006:46)

lalu apa itu tanda? para strukturalis, merujuk pada Ferdinand De Saussure, melihat tanda sebagai pertemuan antara bentuk (yang tercitra dalam kognisi seseorang) dan makna (atau isi, yakni yang dipahami oleh manusia pemakai tanda). De Saussure menggunakan istilah penanda untuk segi bentuk suatu tanda, dan petanda untuk untuk segi maknanya. dengan demikian, De Saussure dan para pengikutnya (antara lain Roland Barthes) melihat tanda sebagai sesuatu yang menstruktur (proses pemaknaan berupa kaitan antara penanda dan petanda) dan terstruktur (hasil proses tersebut) di dalam kognisi manusia. Dalam teori De Saussure, penanda bukanlah bunyi bahasa secara konkret, tetapi merupakan citra tentang bunyi bahasa (image acoustique). dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita dilihat sebagai “bentuk” yang mempunyai “makna” tertentu. Masih dalam pengertian De Saussure, hubungan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, yakni didasari oleh “kesepakatan” (konvensi) sosial. (Benny Hoed; Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya; 2008:3).

yah singkat cerita sih yah, semiotika itu adalah bagaimana kita (manusia) melihat sebuah tanda kemudian mengartikannya menurut kemampuan inderawi kita, pengalaman, latar belakang kebudayaan, dan pengetahuan kita. bagaimana kita (manusia) melihat seekor singa bukan cuma sebagai sesosok daging terbungkus kulit dengan warna kuning keemasan, berambut pirang lebat tak beraturan, serta bertampang sangar tak karuan, tetapi jauh ke dalam, kita (manusia) mengartikan singa sebagai sosok pemimpin, sekaligus sebagai simbol kegarangan, dan simbol respect, sesuai dengan mitos yang berkembang kepadanya yaitu, raja hutan.

Tagged , ,